STAI Nurul Iman Parung Bogor dan USIM Malaysia Selenggarakan Webinar Internasional Bahas Child Marriage

IMG-20251223-WA0000

            Parung, Bogor — STAI Nurul Iman Parung Bogor bekerja sama dengan Universitas Sains Islam Malaysia (USIM) menyelenggarakan Webinar Internasional bertema “Child Marriage dalam Sistem Hukum: Perbandingan Indonesia–Malaysia” pada Senin, 15 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta pemerhati hukum keluarga Islam dari Indonesia dan Malaysia.

Webinar internasional ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Abdul Aziz, M.A., MA.Hk dari STAI Nurul Iman Parung Bogor dan Prof. Madya Dr. Mualilim dari Universitas Sains Islam Malaysia (USIM). Kedua narasumber memaparkan perbandingan regulasi, praktik, serta tantangan penanganan perkawinan anak dalam sistem hukum di masing-masing negara.

            Dalam sambutan pembukaan, Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) STAI Nurul Iman Parung Bogor, Dr. Can. Ghufron Maksum, menyampaikan bahwa gagasan penyelenggaraan webinar internasional ini merupakan inisiatif yang digagas oleh almarhum Dr. Ali Mutakin. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi ladang amal jariyah bagi almarhum atas dedikasi dan kontribusinya dalam pengembangan keilmuan dan jejaring akademik internasional.

Lebih lanjut disampaikan bahwa tema child marriage dipilih karena memiliki urgensi tinggi dalam konteks perlindungan anak dan penguatan hukum keluarga Islam. Melalui forum ini, peserta diharapkan memperoleh wawasan komparatif antara sistem hukum Indonesia dan Malaysia sebagai bahan refleksi dan pengembangan kebijakan hukum yang lebih berkeadilan.

Prof. Madya Dr. Mualilim dari Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), dalam paparan materinya bahwa di malaysia bagi pasangan yang mau nikah harus ikut pelatihan selama beberapa pekan dan mendapatkan sertifikat dari pemerintah. Di malaysia minimal umur perkawinan yakni 16 Perempuan dan 18 Laki-laki. Pengajuan permohonan dispensasi nikah dibawah umur.

Islam itu utamakan mashlahah, ketika kebenarannya ada maka dispensasi pernikahan dini boleh ats izin. Di malaysia permohonan dispensasi nikah menurun.

Dr. Abdul Aziz, M.A.,MA.Hk memaparkan malaysia belum mengamandemenkan UU Pernikahan, Indonesia sudah mengamandemenkan UU perkawinan.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan interaktif, ditandai dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta mahasiswa Hukum keluarga S1 dan S2. Webinar ini menjadi bagian dari komitmen STAI Nurul Iman Parung Bogor dalam memperkuat kolaborasi akademik internasional serta meningkatkan kualitas kajian keilmuan di bidang hukum keluarga Islam.

 by: Redaksi
Publisher: Khoerul

DEMA STAI Nurul Iman Gelar LDKM 2025: Satu Pekan Pembinaan Kepemimpinan Mahasiswa yang Komprehensif dan Berkarakter.

IMG_1120

LDKM 2025 menghadirkan rangkaian materi intensif selama 1–7 Desember 2025 untuk membentuk pemimpin muda yang kompeten, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai religius.

DEMA STAI Nurul Iman resmi memulai rangkaian Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) 2025 pada 1–7 Desember 2025. Kegiatan tahunan ini kembali menjadi momentum penting bagi mahasiswa yang tengah menapaki dunia organisasi. Selama satu minggu penuh, para peserta dibimbing, diarahkan, dan diperkaya dengan wawasan kepemimpinan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan organisasi masa kini.

Tujuan utama LDKM tahun ini adalah membekali mahasiswa dengan fondasi kepemimpinan yang kuat: administrasi yang tertata, manajemen diri yang matang, sensitivitas sosial, etika yang kokoh, hingga pemahaman historis tentang peran mahasiswa. Seluruh materi dibawakan oleh dosen, praktisi, dan para demisioner yang telah terbukti kiprahnya dalam dunia kepemimpinan kampus.

Hari Pertama – Merapikan Fondasi Administrasi Organisasi

Rangkaian LDKM dibuka dengan materi “Korespondensi Organisasi” oleh Dr. Subaiki Ikhwan, M.Pd. Beliau mengajak peserta menyadari bahwa administrasi bukan sekadar urusan surat-menyurat, tetapi cerminan profesionalitas sebuah organisasi. Melalui contoh nyata dan penjelasan teknis, peserta diajak memahami cara menyusun dokumen resmi yang baik, menyampaikan laporan dengan bahasa akademik, hingga menjaga pola komunikasi administratif yang efektif. Sesi ini menjadi fondasi penting bagi peserta sebelum memasuki materi berikutnya.

Hari Kedua – Menguatkan Kendali Diri sebagai Pemimpin Mahasantri

Hari kedua diisi oleh Ust. Aah Sholahudin, M.Ag. dengan tema “Manajemen Diri Kepemimpinan Mahasantri”. Suasana kelas terasa hidup karena penyampaian materi yang interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut melakukan refleksi diri, mengenali pola kebiasaan, potensi, dan kelemahan yang memengaruhi gaya kepemimpinan mereka. Ust. Aah menekankan bahwa pemimpin yang baik harus mampu mengarahkan dirinya terlebih dahulu sebelum mengarahkan orang lain. Materi ini menjadi pengingat bagi peserta bahwa karakter dan disiplin diri adalah modal dasar kepemimpinan.

Hari Ketiga – Membaca Budaya Kampus Melalui Perspektif Antropologi

Pada hari ketiga, peserta diajak memahami dunia kampus melalui kacamata “Antropologi Kampus” bersama Alan Muhammad Taufik, S.Pd. Materi ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana nilai, norma, dan kebiasaan terbentuk dalam kehidupan akademik. Dengan bahasa yang ringan namun tajam, Alan membagikan pengalamannya selama aktif berorganisasi dan menunjukkan bagaimana pemahaman budaya kampus membantu seorang pemimpin mengambil keputusan yang tepat. Peserta diajak menyadari bahwa kepemimpinan tidak hanya soal teknis, tetapi juga soal membaca situasi sosial.

Hari Keempat – Melatih Ketajaman Dalam Membangun Relasi dan Diplomasi

Materi “Lobbying dan Networking” yang dibawakan Iip Saepul Anwar, S.H. pada hari keempat membuka wawasan peserta mengenai pentingnya jejaring dalam memperkuat daya gerak organisasi. Peserta belajar membuat komunikasi strategis, membangun hubungan yang sehat, serta menggunakan relasi secara profesional tanpa mengorbankan etika. Melalui studi kasus yang dihadirkan, peserta melihat langsung bagaimana diplomasi organisasi bekerja dalam situasi nyata. Sesi ini mempertegas bahwa jejaring yang tepat akan memperluas peluang dan memperkuat eksistensi organisasi.

Hari Kelima – Menanamkan Etika sebagai Napas Kepemimpinan

Hari kelima dipandu oleh Khoirul Fadli, seorang aktivis berpengalaman dan Koordinator Wilayah BEM Pesantren Jawa Barat–Banten. Dengan gaya penyampaian yang lugas, beliau menegaskan bahwa etika adalah fondasi utama yang menentukan kualitas seorang pemimpin. Kejujuran, transparansi, tanggung jawab sosial, dan komitmen pada norma akademik menjadi poin penting yang dibahas. Peserta dibuat memahami bahwa kemampuan intelektual dan retorika tidak akan berarti tanpa integritas moral yang kuat.

Hari Keenam – Memahami Peran Mahasiswa dari Perspektif Sejarah

Pada hari keenam, Aqsho Bintang Nusantara, S.A.P. mengajak peserta menelusuri perjalanan sejarah gerakan mahasiswa. Materi ini menghidupkan kembali kesadaran bahwa mahasiswa selalu memiliki peran strategis sebagai kekuatan moral dan agen perubahan. Aqsho menyoroti tantangan baru di era digital—mulai dari banjir informasi hingga polarisasi opini—yang menuntut pemimpin mahasiswa untuk adaptif, kritis, dan tetap memegang teguh idealisme.

Hari Ketujuh – Refleksi Bersama Para Demisioner

Penutupan LDKM diisi dengan sesi “Sharing Insight with Demisioner”, menghadirkan Ahmad Berizi, M.Pd., Riki Pratama, S.Pd., serta beberapa demisioner lainnya. Suasana forum berlangsung hangat dan penuh refleksi. Para narasumber berbagi pengalaman mereka saat memimpin organisasi, tantangan yang pernah dihadapi, serta nilai-nilai yang mereka pegang teguh sepanjang perjalanan kepemimpinan. Sesi ini menjadi ruang dialog lintas generasi yang memperkuat motivasi peserta untuk melanjutkan estafet kepemimpinan kampus.

IMG_1120 IMG_1129

Penutup

Seluruh rangkaian LDKM STAI Nurul Iman 2025 berjalan dengan baik dan memberikan dampak signifikan bagi peserta. Selama satu pekan, mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga ruang refleksi, pengalaman praktis, dan inspirasi dari para pemimpin sebelumnya. Melalui pembinaan yang komprehensif ini, diharapkan lahir pemimpin muda yang berdaya, adaptif, visioner, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai religius dalam setiap langkah pengabdiannya bagi organisasi dan masyarakat.