LDKM 2025 menghadirkan rangkaian materi intensif selama 1–7 Desember 2025 untuk membentuk pemimpin muda yang kompeten, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai religius.
DEMA STAI Nurul Iman resmi memulai rangkaian Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) 2025 pada 1–7 Desember 2025. Kegiatan tahunan ini kembali menjadi momentum penting bagi mahasiswa yang tengah menapaki dunia organisasi. Selama satu minggu penuh, para peserta dibimbing, diarahkan, dan diperkaya dengan wawasan kepemimpinan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan organisasi masa kini.
Tujuan utama LDKM tahun ini adalah membekali mahasiswa dengan fondasi kepemimpinan yang kuat: administrasi yang tertata, manajemen diri yang matang, sensitivitas sosial, etika yang kokoh, hingga pemahaman historis tentang peran mahasiswa. Seluruh materi dibawakan oleh dosen, praktisi, dan para demisioner yang telah terbukti kiprahnya dalam dunia kepemimpinan kampus.
Hari Pertama – Merapikan Fondasi Administrasi Organisasi
Rangkaian LDKM dibuka dengan materi “Korespondensi Organisasi” oleh Dr. Subaiki Ikhwan, M.Pd. Beliau mengajak peserta menyadari bahwa administrasi bukan sekadar urusan surat-menyurat, tetapi cerminan profesionalitas sebuah organisasi. Melalui contoh nyata dan penjelasan teknis, peserta diajak memahami cara menyusun dokumen resmi yang baik, menyampaikan laporan dengan bahasa akademik, hingga menjaga pola komunikasi administratif yang efektif. Sesi ini menjadi fondasi penting bagi peserta sebelum memasuki materi berikutnya.
Hari Kedua – Menguatkan Kendali Diri sebagai Pemimpin Mahasantri
Hari kedua diisi oleh Ust. Aah Sholahudin, M.Ag. dengan tema “Manajemen Diri Kepemimpinan Mahasantri”. Suasana kelas terasa hidup karena penyampaian materi yang interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut melakukan refleksi diri, mengenali pola kebiasaan, potensi, dan kelemahan yang memengaruhi gaya kepemimpinan mereka. Ust. Aah menekankan bahwa pemimpin yang baik harus mampu mengarahkan dirinya terlebih dahulu sebelum mengarahkan orang lain. Materi ini menjadi pengingat bagi peserta bahwa karakter dan disiplin diri adalah modal dasar kepemimpinan.
Hari Ketiga – Membaca Budaya Kampus Melalui Perspektif Antropologi
Pada hari ketiga, peserta diajak memahami dunia kampus melalui kacamata “Antropologi Kampus” bersama Alan Muhammad Taufik, S.Pd. Materi ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana nilai, norma, dan kebiasaan terbentuk dalam kehidupan akademik. Dengan bahasa yang ringan namun tajam, Alan membagikan pengalamannya selama aktif berorganisasi dan menunjukkan bagaimana pemahaman budaya kampus membantu seorang pemimpin mengambil keputusan yang tepat. Peserta diajak menyadari bahwa kepemimpinan tidak hanya soal teknis, tetapi juga soal membaca situasi sosial.
Hari Keempat – Melatih Ketajaman Dalam Membangun Relasi dan Diplomasi
Materi “Lobbying dan Networking” yang dibawakan Iip Saepul Anwar, S.H. pada hari keempat membuka wawasan peserta mengenai pentingnya jejaring dalam memperkuat daya gerak organisasi. Peserta belajar membuat komunikasi strategis, membangun hubungan yang sehat, serta menggunakan relasi secara profesional tanpa mengorbankan etika. Melalui studi kasus yang dihadirkan, peserta melihat langsung bagaimana diplomasi organisasi bekerja dalam situasi nyata. Sesi ini mempertegas bahwa jejaring yang tepat akan memperluas peluang dan memperkuat eksistensi organisasi.
Hari Kelima – Menanamkan Etika sebagai Napas Kepemimpinan
Hari kelima dipandu oleh Khoirul Fadli, seorang aktivis berpengalaman dan Koordinator Wilayah BEM Pesantren Jawa Barat–Banten. Dengan gaya penyampaian yang lugas, beliau menegaskan bahwa etika adalah fondasi utama yang menentukan kualitas seorang pemimpin. Kejujuran, transparansi, tanggung jawab sosial, dan komitmen pada norma akademik menjadi poin penting yang dibahas. Peserta dibuat memahami bahwa kemampuan intelektual dan retorika tidak akan berarti tanpa integritas moral yang kuat.
Hari Keenam – Memahami Peran Mahasiswa dari Perspektif Sejarah
Pada hari keenam, Aqsho Bintang Nusantara, S.A.P. mengajak peserta menelusuri perjalanan sejarah gerakan mahasiswa. Materi ini menghidupkan kembali kesadaran bahwa mahasiswa selalu memiliki peran strategis sebagai kekuatan moral dan agen perubahan. Aqsho menyoroti tantangan baru di era digital—mulai dari banjir informasi hingga polarisasi opini—yang menuntut pemimpin mahasiswa untuk adaptif, kritis, dan tetap memegang teguh idealisme.
Hari Ketujuh – Refleksi Bersama Para Demisioner
Penutupan LDKM diisi dengan sesi “Sharing Insight with Demisioner”, menghadirkan Ahmad Berizi, M.Pd., Riki Pratama, S.Pd., serta beberapa demisioner lainnya. Suasana forum berlangsung hangat dan penuh refleksi. Para narasumber berbagi pengalaman mereka saat memimpin organisasi, tantangan yang pernah dihadapi, serta nilai-nilai yang mereka pegang teguh sepanjang perjalanan kepemimpinan. Sesi ini menjadi ruang dialog lintas generasi yang memperkuat motivasi peserta untuk melanjutkan estafet kepemimpinan kampus.

Penutup
Seluruh rangkaian LDKM STAI Nurul Iman 2025 berjalan dengan baik dan memberikan dampak signifikan bagi peserta. Selama satu pekan, mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga ruang refleksi, pengalaman praktis, dan inspirasi dari para pemimpin sebelumnya. Melalui pembinaan yang komprehensif ini, diharapkan lahir pemimpin muda yang berdaya, adaptif, visioner, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai religius dalam setiap langkah pengabdiannya bagi organisasi dan masyarakat.