Ber-PENDIDIKAN-lah

IMG-20181126-WA0008Pendidikan merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan kita. Pendidikan menjadi barometer kemajuan suatu bangsa. Pun demikian dengan bangsa Indonesia. Kemajuan bangsa Indonesia bergantung pada baik tidaknya pendidikan yang diimplementasikan di Indonesia.
Pendidikan sendiri secara umum dapat diartikan suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga, menjadi orang yang terdidik itu sangatlah diperlukan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi :
كن عالما اومتعلما اومستمعا اومحبا ولا تكن خامسا فتهلك (روه البيهقي
Artinya : “ Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai) atau orang yang belajar (pelajar) atau orang yang mendengarkan ilmu dan atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka engkau akan celaka.” (H.R. Baihaqi).
Dari hadist di atas, Rasulullah saw menganjurkan kita untuk menjadi orang yang berilmu dan mengingatkan kita agar tidak termasuk ke dalam golongan yang kelima, yakni orang yang tidak pandai, orang yang tidak belajar ilmu, orang yang tidak mendengarkan ilmu dan orang yang tidak mencintai ilmu. Dan orang kelima yang dimaksud dalam hadist tersebut adalah orang yang dengan sengaja menutup hati dan dirinya terhadap ilmu.
Dalam dunia pendidikan, keberlangsungan dan keberhasilan proses belajar mengajar bukan hanya dipengaruhi oleh faktor intelektual saja, melainkan juga oleh faktor-faktor nonintelektual lain yang tidak kalah penting dalam menentukan hasil belajar seseorang, salah satunya adalah kemampuan seorang pelajar untuk memotivasi dirinya. Mengutip pendapat Daniel Goleman (2004 : 4), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20 % bagi kesuksesan , sedangkan 80 % adalah sumbangan faktor-faktor kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustrasi, mengendalikan desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama.
Motivasi sangat penting dalam kegiatan belajar, sebab dengan adanya motivasi dapat mendorong semangat belajar. Akan tetapi sebaliknya jika kurang adanya motivasi maka akan melemahkan semangat belajar. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar.
Di samping motivasi yang besar, tentunya ada aspek lain yang berperan cukup dominan, yaitu adanya fasilitas penunjang biaya kuliah (Tuition Fee).
Berbicara mengenai biaya kuliah memang nampaknya agak membuat kita berpikir ulang untuk melanjutkan pendidikan hingga pascasarjana, karena memutuskan untuk kuliah sampai jenjang magister itu bukan lah hal yang mudah dan tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit pula.
Namun demikian, Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School Parung, Bogor dalam hal ini adalah Umi Waheeda binti H. Abdul Rahman, S.Psi., M.Si tak pernah merasa keberatan untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada santri-santrinya. Tak cukup sampai di situ, Umi Waheeda juga masih terus memperhatikan dan memberikan beasiswa kepada segenap tenaga pendidik (dewan Asatidz) untuk melanjutkan pendidikan hingga S 2 dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik di Nurul Iman dengan harapan agar kelak di kemudian hari menjadi guru dan pengajar yang lebih berkompeten dan juga secara berproses dapat berdampak positif terhadap peningkatan stabilitas dan kemajuan pendidikan di Nurul Iman secara holistik pada masa yang akan datang, mengingat pendidikan merupakan garda terdepan dalam mencetak generasi unggul dan berkarakter sementara guru adalah ujung tombak dalam proses tersebut .
Dari program beasiswa tersebut, ada dua perguruan tinggi yang menjadi destinasi utama yakni Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (PTIQ Jakarta) dan Institut Ilmu Qur’an (IIQ Jakarta). Hingga saat ini tercatat sekitar sembilan belas dewan asatidz yang telah diwisuda. Pada 25 Agustus 2018 lalu, sebanyak lima orang dewan asatidz telah terlebih dahulu diwisuda di IIQ Jakarta. Beliau adalah Hb. Muhammad Waliyullah dan Ust. Ibnu Muthi’, M.Ag (untuk konsentrasi pada Kajian Tafsir Al Qur’an) serta Ust. Ghufron Maksum, M.Ag, Ust. Nadzif Ali Asyari, M.Ag dan Ust. Tatang Al Haetami, M.Ag (untuk konsentrasi pada Kajian Hukum Islam). Sedangkan empat belas lainnya merupakan lulusan PTIQ Jakarta yang mengambil konsentrasi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir yakni Ust. Saepudin, M.Ag dan Ust. Mutholib, M.Ag. Sementara dua belas asatidz pada almamater yang sama memilih konsentrasi Manajemen Pendidikan yaitu Ust. Abdul Jalil, M.Pd, Ust. Asep Kurniawan, M.Pd, Ust. Budi Utomo, M.Pd, Ust. Kidam, M.Pd, Ust. M. Abdul Jalil, M.Pd, Ust. M. Mudzakkir, M.Pd, Ust. Murdiono, M.Pd, Ust. Nurisyanto, M.Pd, Ust. Samingun Ngalim, M.Pd, Usth. Laela Fitriyani, M.Pd dan Usth. Siti Kafidhoh. Nama terakhir merupakan penyandang predikat wisudawati terbaik (cumlaude) pada prosesi wisuda yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta bulan Desember tahun lalu.
Dari sekian nama dewan asatidz yang notabene telah menyandang gelar magister di atas, baik pada konsentrasi pendidikan, hukum Islam atau pun kajian Tafsir. Beberapa diantaranya telah aktif menjadi tenaga pengajar (dosen) di Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman, bahkan direkomendasikan untuk menjadi dosen tetap. Sementara asatidz lainnya menjadi tenaga pendidik di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang masih berada di lingkungan Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School.
Selaras dengan semboyan pendidikan yang disuarakan oleh Ki Hadjar Dewantara selaku Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Ing Ngarso sung Tuladha (teladan yang baik), Ing Madya Mangun Karsa (membangun semangat) dan Tut Wuri Handayani (memberikan dukungan). Ternyata di Nurul Iman antara teladan yang baik, semangat dan dukungan dapat berjalan seimbang (balance).
Dengan demikian visi untuk menciptakan tatanan pendidikan yang berkualitas tinggi (High Quality Education Supported by Social Entrepreneurship) yang digagas oleh Abah, Umi Waheeda dan keluarga dapat terus terjaga stabilitasnya. Sehingga mampu mencetak generasi muda yang mengenal Allah dan Rasul-Nya, unggul dalam segala bidang, mampu bersaing dengan dunia luar dan menjadi kebanggaan bagi bangsa dan agama. Wallahu a’lamu bi alshawaab.

IMG-20181126-WA0008 Read More …

Biografi Umi Waheeda

umii

umii

Lahir di Singapura, 14 Januari 1968 dari pasangan Ibu Safinah binti Abdurrahman dan Bapak Abdurrahman bin Adnan. Beliau memiliki darah Banyumas-Ponorogo dari garis ibu dan melayu dari ayahnya dan merupakan putri pertama dari 4 bersaudara yaitu: 1). Waheeda binti Abdul Rahman 2). Zakhina binti Abdul Rahman 3). Umar bin Abdul Rahman dan 4). Sai bin Abdul Rahman.

Beliau dibesarkan di Queens Town dan hidup di lingkungan modern serba ada. Meski demikian, anak pertama dari keempat bersaudara ini selalu memegang teguh prinsip hidupnya bahwa ia selalu “do the best and be the best”. Masa kecil beliau dihabiskan bersama keluarga dan adik-adiknya yang selalu memprioritaskan pendidikan di atas segala-galanya. Umi kecil merupakan anak yang berprestasi dan berbakat hampir disemua mata pelajaran terutama dalam bidang olahraga dan bahasa inggris. Tak terhitung piala yang ia persembahkan bagi kedua orang tuanya sebab umi pun beberapa kali sukses menjuarai olimpiade fisika, tari melayu serta cabang olahraga lari.

Setamatnya dari Anglo Chinese Junior dan Secondary School, Umi melanjutkan studi di Cresent Girl School, mengambil jurusan sastra Inggris dengan O level Cambridge. Di tempat ini prestasi umi semakin meningkat terlebih ditunjang kemampuan bahasa inggris yang baik.
Setelah tiga tahun menghabiskan masa remajanya di college, Umi memutuskan untuk menuntut ilmu agama dan nyantri di Indonesia, tepatnya di Darul Ulum International School di Surabaya. Selama berguru bersama As-Syekh Habib Saggaf, Umi telah mempelajari berbagai macam ilmu agama dan sukses melakukan transliterasi beberapa kitab kuning ke dalam bahasa inggris. Dalam perjalanan selanjutnya Umi mulai menghafal al-Qur’an dan tidak lama kemudian beliau memutuskan untuk menikah dengan Abah pada tanggal 5 Mei 1988 di Singapura.

Setelah itu Umi menetap di Indonesia mendampingi perjuangan Abah dalam berdakwah. Dari Darul Ulum, Abah mengembangkan sayap dakwahnya ke Bintaro dengan membuka sebuah Majlis Ta’lim di Masjid Raya Bintaro. Hingga kemudian Ditahun 2001 Umi memutuskan untuk berpindah kewarganegaraan menjadi WNI (Warga Negara Indonesia).

Pada tanggal 14 Mei 1998, saat Indonesia mengalami krisis moneter di Orde Baru, Abah dan Umi melihat banyaknya remaja yang putus sekolah akibat himpitan masalah ekonomi. Akhirnya mereka sepakat untuk hjrah ke Parung Kabupaten Bogor, merintis berdirinya sebuah lembaga pendidikan bebas biaya yang kemudian masyhur di kenal dunia dengan nama Pondok Pesantren Nurul Iman. Disamping mendampingi suami dalam memimpin sekolah berbasis Islam dan bebas biaya ini, Umi pun melanjutkan studinya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 2007. Setelah itu, beliau pun berhasil meraih gelar magisternya di London School Of Public Relation dan mendapat anugerah sebagai Best Student pada tahun 2010.

Namun ditengah-tengah prestasi dan bertambahnya santri, Allah berkehendak lain. Hari Jum’at, 12 November 2010, Abah berpulang ke rahmatulloh meninggalkan Umi, keluarga dan belasan ribu santri. Ucap singkat namun sarat makna yang beliau tinggalkan adalah “Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman harus tetap gratis sampai kiamat”.