DEMA STAI Nurul Iman Gelar LDKM 2025: Satu Pekan Pembinaan Kepemimpinan Mahasiswa yang Komprehensif dan Berkarakter.

IMG_1120

LDKM 2025 menghadirkan rangkaian materi intensif selama 1–7 Desember 2025 untuk membentuk pemimpin muda yang kompeten, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai religius.

DEMA STAI Nurul Iman resmi memulai rangkaian Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) 2025 pada 1–7 Desember 2025. Kegiatan tahunan ini kembali menjadi momentum penting bagi mahasiswa yang tengah menapaki dunia organisasi. Selama satu minggu penuh, para peserta dibimbing, diarahkan, dan diperkaya dengan wawasan kepemimpinan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan organisasi masa kini.

Tujuan utama LDKM tahun ini adalah membekali mahasiswa dengan fondasi kepemimpinan yang kuat: administrasi yang tertata, manajemen diri yang matang, sensitivitas sosial, etika yang kokoh, hingga pemahaman historis tentang peran mahasiswa. Seluruh materi dibawakan oleh dosen, praktisi, dan para demisioner yang telah terbukti kiprahnya dalam dunia kepemimpinan kampus.

Hari Pertama – Merapikan Fondasi Administrasi Organisasi

Rangkaian LDKM dibuka dengan materi “Korespondensi Organisasi” oleh Dr. Subaiki Ikhwan, M.Pd. Beliau mengajak peserta menyadari bahwa administrasi bukan sekadar urusan surat-menyurat, tetapi cerminan profesionalitas sebuah organisasi. Melalui contoh nyata dan penjelasan teknis, peserta diajak memahami cara menyusun dokumen resmi yang baik, menyampaikan laporan dengan bahasa akademik, hingga menjaga pola komunikasi administratif yang efektif. Sesi ini menjadi fondasi penting bagi peserta sebelum memasuki materi berikutnya.

Hari Kedua – Menguatkan Kendali Diri sebagai Pemimpin Mahasantri

Hari kedua diisi oleh Ust. Aah Sholahudin, M.Ag. dengan tema “Manajemen Diri Kepemimpinan Mahasantri”. Suasana kelas terasa hidup karena penyampaian materi yang interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut melakukan refleksi diri, mengenali pola kebiasaan, potensi, dan kelemahan yang memengaruhi gaya kepemimpinan mereka. Ust. Aah menekankan bahwa pemimpin yang baik harus mampu mengarahkan dirinya terlebih dahulu sebelum mengarahkan orang lain. Materi ini menjadi pengingat bagi peserta bahwa karakter dan disiplin diri adalah modal dasar kepemimpinan.

Hari Ketiga – Membaca Budaya Kampus Melalui Perspektif Antropologi

Pada hari ketiga, peserta diajak memahami dunia kampus melalui kacamata “Antropologi Kampus” bersama Alan Muhammad Taufik, S.Pd. Materi ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana nilai, norma, dan kebiasaan terbentuk dalam kehidupan akademik. Dengan bahasa yang ringan namun tajam, Alan membagikan pengalamannya selama aktif berorganisasi dan menunjukkan bagaimana pemahaman budaya kampus membantu seorang pemimpin mengambil keputusan yang tepat. Peserta diajak menyadari bahwa kepemimpinan tidak hanya soal teknis, tetapi juga soal membaca situasi sosial.

Hari Keempat – Melatih Ketajaman Dalam Membangun Relasi dan Diplomasi

Materi “Lobbying dan Networking” yang dibawakan Iip Saepul Anwar, S.H. pada hari keempat membuka wawasan peserta mengenai pentingnya jejaring dalam memperkuat daya gerak organisasi. Peserta belajar membuat komunikasi strategis, membangun hubungan yang sehat, serta menggunakan relasi secara profesional tanpa mengorbankan etika. Melalui studi kasus yang dihadirkan, peserta melihat langsung bagaimana diplomasi organisasi bekerja dalam situasi nyata. Sesi ini mempertegas bahwa jejaring yang tepat akan memperluas peluang dan memperkuat eksistensi organisasi.

Hari Kelima – Menanamkan Etika sebagai Napas Kepemimpinan

Hari kelima dipandu oleh Khoirul Fadli, seorang aktivis berpengalaman dan Koordinator Wilayah BEM Pesantren Jawa Barat–Banten. Dengan gaya penyampaian yang lugas, beliau menegaskan bahwa etika adalah fondasi utama yang menentukan kualitas seorang pemimpin. Kejujuran, transparansi, tanggung jawab sosial, dan komitmen pada norma akademik menjadi poin penting yang dibahas. Peserta dibuat memahami bahwa kemampuan intelektual dan retorika tidak akan berarti tanpa integritas moral yang kuat.

Hari Keenam – Memahami Peran Mahasiswa dari Perspektif Sejarah

Pada hari keenam, Aqsho Bintang Nusantara, S.A.P. mengajak peserta menelusuri perjalanan sejarah gerakan mahasiswa. Materi ini menghidupkan kembali kesadaran bahwa mahasiswa selalu memiliki peran strategis sebagai kekuatan moral dan agen perubahan. Aqsho menyoroti tantangan baru di era digital—mulai dari banjir informasi hingga polarisasi opini—yang menuntut pemimpin mahasiswa untuk adaptif, kritis, dan tetap memegang teguh idealisme.

Hari Ketujuh – Refleksi Bersama Para Demisioner

Penutupan LDKM diisi dengan sesi “Sharing Insight with Demisioner”, menghadirkan Ahmad Berizi, M.Pd., Riki Pratama, S.Pd., serta beberapa demisioner lainnya. Suasana forum berlangsung hangat dan penuh refleksi. Para narasumber berbagi pengalaman mereka saat memimpin organisasi, tantangan yang pernah dihadapi, serta nilai-nilai yang mereka pegang teguh sepanjang perjalanan kepemimpinan. Sesi ini menjadi ruang dialog lintas generasi yang memperkuat motivasi peserta untuk melanjutkan estafet kepemimpinan kampus.

IMG_1120 IMG_1129

Penutup

Seluruh rangkaian LDKM STAI Nurul Iman 2025 berjalan dengan baik dan memberikan dampak signifikan bagi peserta. Selama satu pekan, mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga ruang refleksi, pengalaman praktis, dan inspirasi dari para pemimpin sebelumnya. Melalui pembinaan yang komprehensif ini, diharapkan lahir pemimpin muda yang berdaya, adaptif, visioner, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai religius dalam setiap langkah pengabdiannya bagi organisasi dan masyarakat.

 

PEMIRA STAI Nurul Iman 2025: Wujud Penguatan Tradisi Demokrasi Mahasiswa

IMG_2539

Parung–Bogor, 10 November 2025 — STAI Nurul Iman kembali menyelenggarakan Pemilihan Raya (PEMIRA) sebagai agenda tahunan dalam memilih Presiden Mahasiswa (Presma) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA). Kegiatan demokrasi ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan aspirasi serta menentukan arah kepemimpinan organisasi kemahasiswaan pada periode mendatang.

Penyelenggaraan PEMIRA 2025 dilaksanakan setelah debat kandidat pada 5 November 2025, yang menjadi ruang adu gagasan antar-pasangan calon. Pada tahun ini terdapat dua pasangan calon yang resmi bertarung dalam kontestasi demokrasi kampus, yaitu:

  • Paslon 01: Muhamad Wildi Arifin (Presma) & Achsanul Mubarok (Wapresma)
  • Paslon 02: Nur Muhamad Abdillah (Presma) & Rahmat Kivlan Shadiq (Wapresma)

Kedua pasangan calon memaparkan visi, misi, serta program unggulan yang berorientasi pada penguatan kapasitas mahasiswa dalam aspek akademik, organisasi, dan pemberdayaan kampus.

PEMIRA melibatkan seluruh fakultas dan program studi yang ada di lingkungan STAI Nurul Iman, meliputi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Ilmu Hadis, serta Hukum Keluarga Islam (HKI). Partisipasi penuh dari seluruh prodi menunjukkan bahwa demokrasi kampus merupakan agenda kolektif yang melibatkan seluruh unsur kemahasiswaan.

Mahasiswa mengikuti proses pemilihan dengan tertib tanpa mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar (KBM). Hal ini menunjukkan kedewasaan mahasiswa dalam menjaga etika berdemokrasi sekaligus memastikan kegiatan akademik tetap menjadi prioritas utama.

Pembukaan PEMIRA secara resmi dipimpin oleh Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Ust. M. Abdul Jalil, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya menumbuhkan tradisi demokrasi yang sehat di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, demokrasi bukan hanya proses memilih pemimpin, tetapi juga ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami nilai musyawarah, akuntabilitas, keterbukaan, serta penghargaan terhadap perbedaan pendapat.

Beliau menambahkan bahwa demokrasi yang dijalankan secara jujur dan transparan selaras dengan nilai-nilai keislaman yang diajarkan dalam berbagai literatur klasik maupun modern. Oleh karena itu, PEMIRA diharapkan dapat menjadi sarana pembentukan karakter dan kepemimpinan mahasiswa.

Penerapan demokrasi di lingkungan kampus memberikan banyak manfaat strategis, mulai dari melatih kemampuan mengambil keputusan kolektif, memahami perbedaan gagasan, meningkatkan keterampilan komunikasi politik, hingga memperkuat akuntabilitas pemimpin mahasiswa. Melalui PEMIRA, calon pemimpin mahasiswa belajar memikul tanggung jawab untuk menjalankan program yang telah dikampanyekan dan mempertanggungjawabkannya kepada publik.

PEMIRA STAI Nurul Iman 2025 menjadi bukti nyata bahwa demokrasi kampus dapat berjalan dengan tertib, partisipatif, dan edukatif. Selain menghasilkan pemimpin mahasiswa baru, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran politik bagi seluruh mahasiswa. Dengan senantiasa menjunjung prinsip demokrasi yang sehat, diharapkan kepemimpinan mahasiswa di STAI Nurul Iman semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi penguatan budaya akademik, organisasi, serta kehidupan sosial kemahasiswaan di masa mendatang.

 IMG_2436

 2

1

Dua Paslon Presma DEMA STAI Nurul Iman Tampilkan Visi Misi dan Arah Baru Pergerakan Mahasiswa

2

Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman (STAI Nurul Iman) kembali menyelenggarakan agenda demokrasi tahunan untuk memilih Presiden Mahasiswa (Presma) periode 2025–2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 5 November 2025 dan menjadi momentum penting bagi mahasiswa dalam menentukan arah gerak organisasi kemahasiswaan satu tahun ke depan. Sebagaimana tradisi di berbagai perguruan tinggi lainnya, pergantian Presiden Mahasiswa bukan hanya sekadar rutinitas administratif, melainkan bagian dari pendidikan kepemimpinan, keterlibatan publik, serta pembentukan budaya demokrasi di lingkungan akademik.
Pada pemilihan tahun ini, terdapat dua pasangan calon yang telah resmi terdaftar. Pasangan calon nomor urut satu dipimpin oleh Muhamad Wildi Arifin dengan wakilnya Achsanul Mubarok. Sementara itu, pasangan nomor urut dua dipimpin oleh Nur Muhamad Abdillah bersama calon wakilnya Rahmat Kivlan Shadiq. Keduanya tampil dengan gaya penyampaian argumentasi yang sistematis, terukur, dan kondusif. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa STAI Nurul Iman mampu menjadikan forum debat bukan sebagai arena konflik, melainkan ruang pertukaran gagasan yang santun dan produktif.1
Selama sesi debat berlangsung, masing-masing pasangan calon menyampaikan visi, misi, serta program strategis yang akan dijalankan apabila terpilih sebagai Presiden Mahasiswa. Kehadiran mahasiswa sebagai audiens memberikan atmosfer intelektual yang kuat. Tepuk tangan, apresiasi, maupun ekspresi kritis dari peserta menunjukkan bahwa minat terhadap dinamika organisasi mahasiswa cukup besar.
Tidak hanya mahasiswa, acara ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua STAI Nurul Iman dan sejumlah dosen. Kehadiran unsur pimpinan kampus menunjukkan dukungan institusi terhadap proses demokrasi mahasiswa, sekaligus komitmen untuk memastikan organisasi kemahasiswaan tetap berada dalam jalur pembinaan moral dan intelektual.
Setiap pasangan calon membawa identitas gerakan yang tercermin dari tagline atau jargon yang mereka pilih. Pasangan nomor urut satu mengusung slogan “Bangkit, Berdaya, dan Berkarya.” Konsep ini menempatkan mahasiswa sekaligus mahasantri sebagai individu yang harus bangkit dengan paradigma baru, tidak menyerah pada keterbatasan yang ada. Kata berdaya menggambarkan komitmen pasangan calon ini dalam meningkatkan kemampuan kompetitif mahasiswa, baik dalam ranah akademik maupun non-akademik. Sementara itu, diksi berkarya menjadi penegasan bahwa aktivitas keilmuan dan pengembangan diri idealnya diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata yang dapat dilihat dan dirasakan.
3Di sisi lain, pasangan nomor urut dua mengusung tagline yang unik dan mudah diingat, yaitu “DAR, DER, DOR.” Secara konseptual, slogan ini memuat gagasan yang cukup mendalam. DAR diartikan sebagai Darurat Literasi. Menurut pasangan ini, kultur literasi di lingkungan kampus masih perlu diperkuat agar mahasiswa memiliki wawasan luas dan kemampuan analisis yang lebih baik. Selanjutnya, DER merupakan akronim dari kata Moderate, yang merujuk pada karakter mahasiswa STAI Nurul Iman sebagai mahasantri yang menjunjung keseimbangan antara pemikiran keagamaan dan kehidupan modern. Adapun unsur DOR diterjemahkan sebagai Dorongan Aksi, yang berarti bahwa gagasan tidak akan memberi dampak tanpa pelaksanaan nyata. Dalam sesinya, Nur Muhamad Abdillah menegaskan bahwa jika ketiga unsur ini berjalan beriringan, maka STAI Nurul Iman akan berkembang menjadi kampus maju dan lebih berdaya saing.
Debat ini mendapatkan respons positif dari jajaran pimpinan kampus. Para wakil ketua STAI Nurul Iman memberikan apresiasi atas suasana yang tertib, argumentatif, dan penuh etika. Menurut mereka, kegiatan seperti ini sangat penting karena menjadi ruang pembelajaran politik yang sehat bagi mahasiswa. Demokrasi kampus tidak hanya melatih mental kepemimpinan, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan akademik terhadap institusi.
Penutup dari kegiatan debat ini menghadirkan suasana penuh harapan. Terlepas dari siapa yang akhirnya terpilih, para mahasiswa dan pimpinan kampus menaruh ekspektasi besar agar Presiden Mahasiswa selanjutnya mampu memajukan organisasi, memperkuat budaya akademik, dan menghadirkan perubahan konstruktif. Dengan demikian, debat ini bukan hanya sekadar kompetisi ide semata, melainkan refleksi perjalanan STAI Nurul Iman menuju masa depan yang lebih progresif, inklusif, dan berdaya.

Penulis : Tim Redaksi Humas
Kategori : Kemahasiswaan & Organisasi

SEMINAR BEASISWA: INVESTASI MASA DEPAN, JANGAN ASAL DAFTAR DOANG BRO!

IMG_7083

Selasa siang, 27 Mei 2025, pukul 14.00 WIB, aula STAINI kembali ramai oleh mahasiswa dan mahasantri yang semangat datang mengikuti seminar keren bertema beasiswa. Acara ini dibuka dan ditutup langsung oleh Ustadzah Siti Halimah, tanpa sambutan atau opening speech panjang-panjang, jadi langsung ke isi acara yang padat dan inspiratif. Seminar kali ini dipandu oleh Danang sebagai MC dan Rama sebagai moderator—keduanya dari HMJ IQT—yang bikin suasana tetap cair dan komunikatif.

IMG_7128

Narasumber pertama, Ustadzah Khafidoh, membawakan materi tentang “Manfaat dan Dampak Beasiswa serta Investasi Pendidikan”. Dalam penyampaian materinya, beliau menekankan bahwa beasiswa itu bukan hanya tentang gratisnya biaya kuliah, tapi juga bentuk investasi masa depan yang punya pengaruh besar terhadap kualitas hidup seseorang. Ia juga mengajak peserta untuk mulai memperbaiki niat dalam mengejar beasiswa—bukan cuma untuk gengsi atau ikut-ikutan. Bahkan, hal sederhana seperti memperbaiki cara berbicara, tata bahasa dalam surat motivasi, sampai attitude saat wawancara, semuanya harus diperhatikan. Dan yang paling penting: semua itu butuh effort besar. Gak ada hasil instan, bro!

Setelah itu, giliran Ustadzah Ernawati yang menyampaikan materi tentang “Sosialisasi Beasiswa LPDP: Tujuan dan Strategi Sukses Wawancara”. Beliau mengajak para peserta untuk lebih mengenal LPDP—beasiswa dalam negeri yang gak kalah kece dari beasiswa luar negeri. Di sela-sela pemaparan, Ustzh. Ernawati juga membagikan pengalamannya saat mendapat beasiswa dan studi di Amerika Serikat, lengkap dengan lika-liku perjuangannya dari awal daftar sampai akhirnya lolos. Ia menegaskan bahwa beasiswa itu bukan main-main, dan semua tahapan seleksi membutuhkan persiapan mental, wawasan, dan ketekunan. Tapi kalau kita niat dan kerja keras, semuanya bisa dicapai.

Sesi tanya jawab jadi bagian yang seru meskipun singkat. Satu peserta laki-laki dan satu peserta perempuan dapat kesempatan buat nanya. Salah satu pertanyaannya cukup nyentil: “Lebih susah mana, dapet beasiswa atau mempertahankannya?” Kedua narasumber sepakat: dua-duanya susah, tapi yang paling penting itu bertahan dan terus berjuang. Proses beasiswa itu penuh tantangan di setiap tahap, tapi selama kita punya semangat, motivasi diri, dan tahu kenapa kita ngejar itu semua, pasti bisa.

Nggak cuma itu, mereka juga kasih pesan penting, terutama buat peserta perempuan. Bahwa perempuan pun punya hak dan peluang yang sama dalam pendidikan tinggi. Jangan merasa cukup hanya mengurus rumah, tapi juga harus siap berbagi peran dan berkontribusi lebih luas. Jadi, belajar keras dan berdaya itu juga bentuk ibadah.

Seminar siang ini nggak cuma nambah ilmu, tapi juga jadi sumber semangat buat para mahasiswa dan mahasantri STAINI. Beasiswa itu bukan cuma soal uang kuliah gratis—tapi tentang bagaimana kita siap membentuk masa depan yang lebih baik lewat perjuangan yang nggak setengah-setengah.

By: Hazirin

Editor: Khoerul

Salam Redaksi

SELASA PENUH INSPIRASI: STAINI BERBICARA KEPEMIMPINAN, PENDIDIKAN, & BEASISWA DI DUNIA MAHASANTRI

00

Hari Selasa, 27 Mei 2025, pukul 09:00 WIB jadi momen berharga bagi mahasiswa dan mahasantri STAINI. Bertempat di aula utama kampus, seminar nasional berlanjut dengan topik yang nggak kalah menarik dari hari sebelumnya—kali ini membahas kepemimpinan dan perjuangan beasiswa sebagai jalan menuju pendidikan yang lebih baik.

000Pagi itu, acara dibuka dengan nuansa religius sekaligus nasionalis: pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan lagu Indonesia Raya dan Mars STAINI yang dikumandangkan bersama para peserta. Rangkaian acara dipandu oleh MC Hafidz dan moderator Arya—dua mahasiswa aktif dari HMJ HKI yang sigap dan komunikatif dalam membawa suasana seminar tetap hidup dan fokus.

Tak seperti biasanya, opening speech disampaikan langsung oleh Wakil Ketua I, Ustadz Ali Mutakkin. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan penting yang langsung menohok hati: “Kalau mau berhasil, harus serius dalam pendidikan. Manfaatkan seminar ini, bukan sekadar hadir, tapi bawa pulang ilmunya.”

Seminar kali ini terasa berbeda karena benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa. Dua narasumber hadir menyampaikan materi yang relevan dan inspiratif. Ustad Aah menekankan bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan finansial, melainkan tanggung jawab moral untuk menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh. Ia mengingatkan bahwa ilmu tak hanya membuka peluang, tetapi juga menjaga diri dari keburukan dan menjadikan seseorang mulia dalam pandangan masyarakat maupun agama.

Sementara itu, Ustad Muadib membahas bagaimana pesantren menjadi wadah penting dalam membentuk pemimpin yang jujur dan berkarakter. Menurutnya, kualitas kepemimpinan yang baik lahir dari nilai-nilai luhur seperti fathonah (cerdas), shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (menyampaikan kebenaran). Ia juga menyampaikan bahwa perempuan pun layak memimpin, meski memiliki tanggung jawab biologis yang tidak ringan—namun itu bukan halangan, melainkan bentuk perjuangan tersendiri.

Meskipun sesi tanya jawab dibatasi, hanya satu penanya dari laki-laki dan satu dari perempuan, diskusi tetap terasa hidup dan menggugah. Menariknya, dalam pembahasan soal kepemimpinan, Ustadz Muadib menyampaikan bahwa perempuan juga layak jadi pemimpin asal mampu membagi waktu dan komitmen, karena perempuan punya tanggung jawab biologis yang juga berat seperti mengandung dan melahirkan. Tapi itu bukan penghalang, hanya tantangan.

Seluruh rangkaian acara digerakkan oleh HMJ HKI sebagai panitia inti, dengan dukungan dari DEMA dan HMJ jurusan lainnya. Kolaborasi ini membuat acara terasa milik bersama bukan sekadar kegiatan formal, tapi ruang untuk bertumbuh bareng.

00

Seminar hari Selasa ini berhasil membuktikan bahwa mahasiswa dan mahasantri STAINI bukan hanya siap bersaing di dunia akademik, tapi juga siap jadi pemimpin masa depan yang berintegritas, dengan bekal ilmu, pengalaman, dan semangat yang menyala.

By: Hazirin

Editor: Khoerul

Salam Redaksi

MASTAMA STAINI 2025: Empat Hari Penuh Semangat Menyambut Mahasiswa Baru

WhatsApp Image 2025-06-20 at 21.11.44

Pada awal Juni 2025, Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman (STAINI) kembali menyelenggarakan kegiatan tahunan Masa Ta’aruf Mahasiswa (MASTAMA). Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai dari Minggu, 2 Juni hingga Kamis, 5 Juni 2025. MASTAMA bukan hanya sekadar agenda seremonial penyambutan mahasiswa baru, melainkan sebuah proses awal yang dirancang untuk memperkenalkan kehidupan kampus sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari keluarga besar STAINI.

Hari Pertama: Pembukaan dan Transisi Akademika Kegiatan dibuka pada hari Minggu pukul 14.00 WIB di Masjid Toha, yang menjadi titik awal pengenalan aturan dan agenda kegiatan. Suasana terasa hangat meski masih penuh tanda tanya di wajah para peserta. Paparan panitia menyampaikan bahwa MASTAMA ini akan diisi dengan berbagai kegiatan edukatif, spiritual, dan juga fisik yang mengasah kedisiplinan.

WhatsApp Image 2025-06-20 at 21.12.29

Senin pagi, 3 Juni, kegiatan dilanjutkan dengan Upacara Transisi Akademika yang cukup istimewa karena diikuti lintas jenjang dari SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa STAINI. Setelah itu, mahasiswa baru diajak menyelami dunia akademik melalui pengenalan program studi, diawali dengan Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) oleh Ustaz Mahmurudin dan Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) oleh Ustaz Gufron

WhatsApp Image 2025-06-20 at 21.11.44

Meski persiapan tak luput dari tantangan, kegiatan tetap berjalan lancar hingga siang hari. Pada sesi sore di Lapangan Kampus Biru, mahasiswa baru mulai merasakan atmosfer semi-militer. Menwa sebagai koordinator lapangan mengenalkan yel-yel, baris berbaris, pembagian kelompok, serta perlengkapan yang wajib dibawa keesokan harinya.

Hari Kedua: Keringat, Semangat, dan Spiritualitas Selasa pagi dimulai dengan senam bersama yang dipandu oleh Menwa, HMJ, dan DEMA. Sebelum senam, mahasiswa baru diberikan pengarahan dasar tentang baris-berbaris dan tata laporan. Suasana makin hangat saat senam dipandu oleh rekan-rekan mahasiswa baru sendiri—sebuah bentuk keberanian dan inisiatif yang diapresiasi.

 Kegiatan dilanjutkan dengan kajian tafsir oleh Abah di Masjid Toha. Setelah itu, mahasiswa diperkenalkan lebih dalam pada masing-masing program studi oleh para Kaprodi: Ustaz Nurkholis (IHA), Ustaz Satibi (PBA), dan Ustaz Mahbub (MPI). Tak hanya menyimak, peserta juga antusias berdiskusi.

Siang harinya, latihan lapangan kembali digelar. Meski terik matahari menyengat, semangat peserta tetap menyala. Karena hari berikutnya bertepatan dengan puasa Tarwiyah dan Arafah, latihan fisik ini menjadi sesi terakhir di lapangan

Hari Ketiga: Tantangan dan Konsistensi Rabu pagi diawali kembali dengan senam, meskipun sempat diwarnai beberapa kendala teknis. Namun, panitia tidak menyerah. Mereka tetap berusaha agar agenda tetap berjalan sebaik mungkin. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tafsir dan pemetaan prodi melalui pengisian formulir yang telah disediakan. Sesi siang ditutup dengan briefing serta hiburan ringan dari panitia yang menambah suasana akrab dan menyenangkan.

 Hari Keempat: Penutup yang Penuh Pesan Kamis pagi, kegiatan senam kembali dilaksanakan. Setelahnya, mahasiswa baru mengikuti kajian dan kemudian memasuki sesi seleksi program studi untuk HKI dan MPI yang jumlah pendaftarnya cukup banyak tahun ini. Keseriusan dan semangat peserta menjadi sorotan positif dalam sesi ini.

 Puncaknya terjadi pada Kamis siang, saat closing ceremony digelar di Lapangan Kampus Biru. Acara ini dihadiri oleh Waket II dan III, yang dalam sambutannya menyampaikan pesan penuh motivasi. Meski kegiatan berlangsung di tengah ibadah puasa Arafah, mereka mengajak mahasiswa untuk tetap semangat dan menjadikan ini sebagai langkah awal yang berkah

Kegiatan diakhiri dengan momen mushafahah antara mahasiswa baru, panitia, dan para dosen, diiringi lagu “Darah Juang” dan “Buruh Tani” yang membawa suasana menjadi lebih reflektif dan menyentuh. Tidak ada tangisan berlebihan, tapi cukup untuk menyadarkan bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.

Acara ditutup secara spiritual dengan pembacaan surah Al-Fatihah yang dipimpin oleh bagian kesiswaan, Pa Aan, dan ditutup bersama dengan hamdalah. Sebuah akhir yang sederhana, hangat, dan penuh makna.

 MASTAMA 2025 bukan sekadar program orientasi. Ia adalah ruang perkenalan, latihan semangat, dan pengalaman awal tentang dunia yang akan mahasiswa baru hadapi. Dari senam pagi hingga kajian tafsir, dari lapangan hingga masjid, dari teriakan yel-yel hingga hening doa penutup—semuanya menyatu dalam satu semangat: menjadi insan akademik yang kuat, siap belajar, dan siap berkontribusi.

By: Hazirin,

Editor: khoerul

Salam Redaksi

Ujian Tengah Semester (UTS) di Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman untuk Program Studi IQT, HKI, PBA, IHA, dan MPI

ujian staini

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nurul Iman  Parung Bogor telah melaksanakan ujian tengah semester genap dengan sukses. kegiatan ini berlangsung dari tanggal 17 hingga 20 Februari 2025 dan diikuti oleh seluruh mahasiswa aktif.pelaksanaan UTS genap ini dilaksanakan secara tertulis dan praktik, tergantung mata kuliah yang diujikan. mahasiswa wajib untuk mengikuti ujian sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

UTS berfungsi untuk mengukur pemahaman mahasiswa terhadap materi yang telah dipelajari selama paruh pertama semester. Kegiatan UTS ini mencakup berbagai program studi, diantaranya Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT), Hukum Keluarga Islam (HKI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Ilmu Hadis (IHA), dan Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Masing-masing program studi memiliki karakteristik ujian yang disesuaikan dengan fokus materi yang diajarkan, serta penerapan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

  1. UTS pada Program Studi Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT)
    Pada prodi IQT, UTS bertujuan untuk menguji pemahaman mahasiswa terhadap tafsir Al-Qur’an, ilmu qira’at, serta tafsir tematik. Ujian ini meliputi penguasaan terhadap berbagai pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an, baik secara klasik maupun kontemporer.
    Jenis ujian yang diterapkan di prodi IQT meliputi ujian tertulis dan ujian lisan. Pada ujian tertulis, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tafsir ayat-ayat tertentu dengan menggunakan pendekatan yang tepat, baik secara historis, linguistik, maupun kontekstual. Ujian lisan lebih difokuskan pada kemampuan mahasiswa dalam mendiskusikan dan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an serta memberikan penafsiran yang relevan dengan isu-isu masa kini.
    Mahasiswa juga sering diuji dalam hal hafalan dan pemahaman terhadap tafsir tertentu, yang menjadi bagian dari proses pembelajaran intensif dalam prodi ini.
  2. UTS pada Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI)
    Program studi Hukum Keluarga Islam (HKI) menitikberatkan pada pemahaman mengenai hukum Islam terkait dengan keluarga, seperti pernikahan, perceraian, warisan, dan hak-hak keluarga dalam perspektif syariat.
    Dalam UTS, mahasiswa HKI diharapkan untuk dapat menganalisis berbagai permasalahan hukum keluarga yang sering dijumpai dalam masyarakat. Ujian biasanya mencakup studi kasus di mana mahasiswa harus mengaplikasikan prinsip-prinsip fiqh muamalat dan hukum Islam dalam menyelesaikan kasus yang diberikan.
    Selain ujian tertulis, mahasiswa juga sering diuji dalam ujian lisan atau diskusi mengenai tafsiran hukum Islam terhadap isu-isu kontemporer terkait hukum keluarga. Melalui ujian ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai teori hukum Islam, tetapi juga dapat berpikir kritis dalam menghadapi tantangan hukum keluarga yang ada di masyarakat.
  3. UTS pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA)
    UTS di program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) lebih fokus pada pengujian kemampuan mahasiswa dalam berbahasa Arab, baik dari sisi keterampilan berbicara, menulis, membaca, maupun mendengarkan. Ujian tertulis dalam bentuk tes bahasa sering kali mencakup materi terkait tata bahasa (nahwu), tafsir, serta kemampuan menerjemahkan teks-teks Arab ke dalam bahasa Indonesia.
    Selain itu, mahasiswa PBA juga diuji dalam kemampuan mengajar Bahasa Arab. Ujian praktek dalam bentuk presentasi atau mengajar merupakan bagian penting dalam menilai keterampilan mahasiswa dalam mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari dalam praktek pengajaran. Ujian ini bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa agar siap menjadi pengajar Bahasa Arab di berbagai tingkat pendidikan.
  4. UTS pada Program Studi Ilmu Hadis (IHA)
    Di prodi Ilmu Hadis (IHA), UTS berfokus pada penguasaan mahasiswa terhadap ilmu hadis, termasuk pengklasifikasian hadis, sanad, matan, serta metode kritik hadis (Ilmu Mustalah Hadis). Ujian tertulis di prodi ini mencakup analisis hadis-hadis tertentu serta pembahasan tentang peran hadis dalam kehidupan sehari-hari.
    Mahasiswa juga diuji melalui ujian lisan yang memfokuskan pada kemampuan mereka dalam menilai dan menjelaskan keabsahan hadis, serta menerapkannya dalam konteks sosial dan keagamaan masa kini. Ujian ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman yang mendalam tentang kedudukan hadis dalam syariat Islam dan penerapannya di masyarakat.
  5. UTS pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
    UTS pada program studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) lebih berfokus pada pemahaman mahasiswa mengenai teori dan praktik manajemen dalam konteks pendidikan Islam. Ujian ini mencakup topik-topik seperti perencanaan pendidikan, manajemen kurikulum, manajemen sumber daya manusia di lembaga pendidikan Islam, serta kebijakan pendidikan Islam yang relevan.
    Mahasiswa MPI diuji melalui ujian tertulis yang menguji pemahaman teoritis mereka tentang manajemen pendidikan Islam dan bagaimana konsep-konsep tersebut dapat diterapkan dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Selain itu, ujian praktik dalam bentuk studi kasus atau simulasi pengelolaan lembaga pendidikan juga menjadi bagian dari evaluasi untuk melihat sejauh mana mahasiswa mampu merancang dan mengelola pendidikan Islam secara efektif dan efisien.

Penutup
Kegiatan Ujian Tengah Semester (UTS) di Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman pada program studi IQT, HKI, PBA, IH, dan MPI dengan suksesnya pelaksanaan ujian tengah semester genap ini, diharapkan mahasiswa STAI Nurul Iman Parung Bogor dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya, serta menjadi lebih siap dalam menghadapi ujian akhir semester.

Salam Redaksi

PEMIRA 2024: GELAR PESTA DEMOKRASI, WAJAH BARU PUCUK PIMPINAN DEMA STAINI

IMG_5103

STAINI News – Dalam ajang pesta demokrasi dan regenerasi sebagai instrumen penggerak kampus, Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman (STAINI) Parung-Bogor mencatat sejarah demokrasi mahasiswa yang luar biasa dengan suksesnya Pemilihan Umum Mahasiswa (PEMIRA) pada hari Rabu,11/12/2024.

IMG_4487Acara bersejarah ini diselenggarakan secara offline, di halaman kampus biru dan di Ruang Kelas Kampus Biru STAINI yang bertemakan “Sukseskan pemira untuk kemajuan bersama”. Suasana penuh semangat ini menjadi latar belakang bagi terpilihnya pemimpin baru dan bentuk wujud partisipasi dari seluruh mahasiswa dalam memilih Ketua dan Wakil Ketua DEMA STAINI periode 2024-2025.

Daffa Fathumubin selaku Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) STAINI memimpin pelaksanaan pemira yang melibatkan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAINI yang berjalan aman dan kondusif.

Untitled-1

“Alhamdulillah selama proses pemilihan tidak ada dinamika yang mengarah dan mengacu pada perselisihan antara saksi dan pendukung. Serta KPUM ini telah menjalankan proses pemilihan hingga usai sampai akhir dengan nyaman dan damai ”. Ujarnya.

Terdapat dua pasangan calon (paslon) dalam Demokrasi Pemira kali ini,yang pertama paslon Muhamad Aufar rafidan dan Hendi sebagai kandidat nomor 1, yang kedua paslon Mukhamad Fadli Ginanjar & Muhamad Aprialdi sebagai kandidat nomor 2, mereka bersaing untuk menduduki posisi Ketua dan Wakil Ketua DEMA STAINI Tahun Periode 2024-2025.

Satu hari sebeleumnya selasa 10/12 debat paslon dengan rangkaian acara dimulai dengan pemaparan visi dan misi, adu gagasan bersama civitas akademika dan seluruh mahasiswa STAINI, dilanjutkan dengan Debat antar paslon, banyak pertanyaan-pertanyaan yang sangat luarbiasa daripada mahasiswa dan para dosen STAINI dan tentunya tidak kalah luarbiasanya jawaban yang diberikan oleh para calon pucuk pimpinan DEMA STAINI dan terakhir dilakukan pemungutan suara.

Dan dari pemungutan suara tersebut paslon nomor urut 1 mendapatkan 205 suara. Sedangkan paslon nomor urut 2 mendapatkan 271 suara. Dan Alhamdulillah Dari pesta demokrasi mahasiswa ini, akhirnya ditentukan pasangan calon yang terpilih menjadi Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa DEMA STAI Nurul Iman adalah paslon nomor urut 2 yakni Mukhamad Fadli Ginanjar dan Muhamad Aprialdi Jayanto demi membawa harapan baru dan komitmen untuk menjaga persatuan serta kemajuan bagi seluruh elemen di lingkungan akademik STAI Nurul Iman Parung-Bogor.

Untitled-2

Proses pemungutan dan perhitungan suara dilaksanakan di halaman dan Ruang Kelas kampus biru dan juga dihadiri langsung oleh Wakil Ketua I Bidang Akademik, Wakil Ketua II Bidang Administrasi, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, serta seluruh Dosen STAI Nurul Iman Parung Bogor.

Dalam sambutannya, Muhamad Abdul Jalil, M.Pd Wakil Ketua III STAINI dengan tulus memberikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa atas pastisipasi dan keberhasilan Pemira tahun ini. Beliau menyatakan rasa bangga atas tingginya antusiasme dan keterlibatan mahasiswa dalam proses demokrasi ini. Tentunya beliau berharap ajang ini menjadi pendorong semangat bagi mahasiswa serta pemenang pemira untuk menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, memperkuat komitmen atas prinsifnya dalam membawa perubahan positif, serta mengemban amanat yang telah dipercayakan oleh rekan-rekan mahasiswa.

 by : Fadli G. & Fariz Hazirin

 

Mahasiswa STAI Nurul Iman Parung Bogor Kunjungan & Diskusi Alumni Exchange : Inspiring Voices di @america Pacific Place Mall Jakarta

IMG_0595

Jakarta, 7 November 2024

Satu bus yang berisi mahasiswa STAINI Bogor menuju Jakarta untuk menjadi peserta diskusi di @america Jakarta, dimana pemberangkatan dihari terakhir UAS Ganjil Tahun Akademik 2024-2025 jam mata kuliah ke-4, hari Kamis 7 November dengan jumlah 59 peserta, mahasiswa tersebut menghadiri di acara podcast yang bertema #Alumni Exchange: Inspiring Voices di Pusat Kebudayan Amerika @america (Pacific Place Lt.3) Jakarta Selatan.

Di sore yang cerah rombongan Mahasiswa STAINI memasuki gedung Lt.3 Pacific Place Mall. Acara ini menjadi salah satu pusat interaksi yang diminati mahasiswa untuk menambah wawasan dan berdiskusi mengenai topik pertukaran pelajar antara pelajar indonesia di Negara Adidaya, acara di @amerika ini adalah acara yang bertujuan untuk mengenal atau mengeksplor budaya amerika kepada para pelajar Indonesia dengan menghadiri segenap keluarga Alumni Amerika atau pelajar indonesia yang pernah mendapatkan beasiswa di Negara Amerika, di moderatori oleh ka Hasna Rochani dan Bu Emily Magaziner, narasumber yakni:

  1. Ka Lufthi Noorfitriyani (Defit), 2024 YSEALI PFP Alum, Civic Engagement
  2. Mas Arif Nuh Safri Sitompul, 2024 IVLP Alum, Maintaining Religious Tolerance

IMG_0550“Tidak penting bagi kita itu kuliah di kampus mana atau kuliah di kampus yang berada di daerah plosok pun itu tidak penting, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai mahasiswa untuk memanfaatkan status kemahasiswaannya tersebut. Penting bagi mahasiswa mengikuti Organisasi seperti Organisasi Internal maupun External”. ujarnya

Pegiat religion for humanity “agama harus hadir disitu (tempat kamu tinggal), apapun latar belakangmu ketika kamu mau menghadap ke Tuhan (ibadah) ya silahkan-silahkan saja” ujar mas arif.

Pegiat peace education ka Defit mengungkapkan kurikulum hidup yang dipakai sehari-hari, karena anda tiap hari berinteraksi dari sekolah, masyarakat dan juga keluarga. Anak muda harus banyak berjumpa dan banyak berdialog (pengetahuan). ungkapnya

“Banyak sekali platfoam-platfoam untuk mendapatkan akses beasiswa pendidikan di amerika kurang lebih ada 13 platfoam untuk pertukaran pelajar”. ujar public diplomacy officer embasy US

IMG_0532Kegiatan di @amerika ini, semoga dengan kita hadir di acara tersebut kita bisa mendapatkan wawasan dan inovasi baru, juga kita dapat mengikuti langkah yang sudah di tempuh oleh mas arif dan ka defit. Karena beliau beliau ini sangat luar biasa, walaupun hidup di negara yang mayoritas nonmuslim akan tetapi beliau-beliau ini tetap menjaga nilai nilai agama kita dengan berdakwah secara Fi’liyah (Perbuatan) semoga acara ini bisa membuka pemikiran kita untuk lebih bersemangat lagi untuk mengejar cita-cita kita sebagai santri abah dan Umi. Aamiin Aamiin Ya Robbal ‘Alamin. ungkap ketua HMJ PBA

Acara diakhiri dengan tanya jawab dan foto bersama, peserta pun dipersilahkan untuk mengunjungi stand-stand yang disediakan oleh pusat kebudayaan amerika milik embasy USA..

 

By : M. Fariz Hazirin & Fadli Ginanjar

 

 

Masa Ta’aruf Mahasiswa dan Seminar Nasional: Membuka Gerbang Akademik di Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman

929823f4-781d-4125-8f7f-fbd7fbca3c85

STAINI News – Dewan Eksekutif Mahasiswa STAI Nurul Iman Parung Bogor sukses menggelar kegiatan Masa Ta’aruf Mahasiswa (MASTAMA) dan Seminar Nasional dalam rangka menyambut mahasiswa baru Tahun Akademik 2024/2025. Kegiatan ini berlangsung selama sepekan, mulai dari tanggal 1 hingga 7 Juli 2024, bertempat di Masjid Toha dan Kampus Biru STAI Nurul Iman.

425545c3-e00d-4003-b558-fa7a5b6d473b

Acara ini diawali dengan Opening Ceremony yang diisi dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars STAI Nurul Iman, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kegiatan MASTAMA ini merupakan bagian dari rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) yang bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa baru pada kehidupan kampus serta membekali mereka dengan berbagai wawasan dan keterampilan yang dibutuhkan selama menjalani masa studi.

Hari pertama kegiatan diisi dengan pembekalan oleh Muhammad Abdul Jalil, M.Pd, dan dilanjutkan dengan seminar bertema “Pendidikan Anti Radikalisme dan Anti Napza” yang disampaikan oleh KOMBES Pol. Sugeng Sudarso, S.I.K., S.H., M.M. dari BARESKRIM POLRI. Seminar ini sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini, terutama dalam menjaga integritas dan nilai-nilai kebangsaan.

Selain itu, kegiatan semakin menarik dengan kehadiran dua pemateri inspiratif, yaitu Abid Al Akbar, Presiden Mahasiswa UIN Jakarta, dan M. Ali Zainal, Presiden Mahasiswa UGM sekaligus CEO Optima Media. Abid Al Akbar membawakan materi tentang “Peran Mahasiswa dalam Membangun Negeri di Era Digital”, di mana ia mengajak para mahasiswa untuk aktif memanfaatkan teknologi dalam pengembangan diri dan berkontribusi kepada masyarakat. Sementara itu, Ali Zainal Abidin menyampaikan materi bertajuk “Kepemimpinan di Era Disrupsi: Membangun Sinergi Mahasiswa dan Dunia Profesional”, yang menekankan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa dan dunia usaha untuk menciptakan peluang baru dalam menghadapi tantangan global.

b15736c8-5e88-4548-885b-29eb9a01758e

Di hari-hari berikutnya, kegiatan seminar dilanjutkan dengan berbagai materi menarik, di antaranya pembahasan mengenai “Aktualisasi Nilai Nurul Iman untuk Membangun Masa Depan” oleh Dr. Ali Mutakin, M.A.Hk, serta “Perguruan Tinggi di Era Revolusi 4.0 dan Society 5.0” yang dibawakan oleh Daud Lintang, S.S.I., M.A. Selain itu, mahasiswa juga diperkenalkan dengan berbagai organisasi kemahasiswaan melalui Parade Ormawa yang digelar pada hari terakhir kegiatan.

0f8486bb-e455-4fd2-afe3-74716bac4967

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, digelar acara Outbound dan Closing Ceremony yang berlangsung penuh keakraban dan semangat. Ketua Panitia, Satria Farabi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya acara ini. “Kami berharap, kegiatan ini dapat menjadi langkah awal yang baik bagi mahasiswa baru dalam menjalani kehidupan akademik di STAI Nurul Iman,” ujarnya.

Dengan berakhirnya rangkaian MASTAMA, diharapkan mahasiswa baru STAI Nurul Iman dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan akademik dan sosial di masa mendatang. Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan membangun kebersamaan di antara para mahasiswa, dosen, dan staf akademik, serta memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat luas.

 

 

 

7109de28-5954-4ac8-8200-cc31ac7c0f61

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Red. Abdurrohman Awalul