STAI NURUL IMAN ADAKAN RAPAT EVALUASI PERKULIAHAN DARING (ONLINE)

n

Nurul Iman News, (Jumat, 18/12/2020). Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nurul Iman Parung, Bogor mengadakan Rapat Evaluasi Perkuliahan Semester Ganjil dan Persiapan Perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 pada Kamis, 17 Desember 2020 pukul 10.00 WIB hingga 11.45 WIB via Zoom Meeting. Rapat evaluasi tersebut dihadiri oleh seluruh jajaran Puket, TU, para Kaprodi dan jajaran Dosen STAI Nurul Iman dari berbagai Prodi. Dalam pembukaan, Puket I Ust. Dr. (Cad) Ali Mutakin, MA.Hk, menyampaikan bahwa perkuliahan semester genap TA 2020/2021 akan dilaksanakan pada 4 Januari 2021 dengan tetap memakai sistem daring (dalam jaringan). Hal tersebut mengingat bahwa daerah Bogor masih dalam zona merah penyebaran covid-19.

Selain itu, ia juga menawarkan sistem pembelajaran melalui 3 aplikasi, yaitu Zoom, Grup WhatsApp, dan Google Site. Dimana aplikasi yang ketiga tersebut akan diadakan pelatihan terlebih dahulu untuk para dosen dan guru di lingkungan Yayasan Nurul Iman pada 22 Desember 2020 mendatang. Untuk memaksimalkan pembelajaran daring, Ust. Ali Mutakin mengharapkan agar seluruh dosen membuat e-book atau modul sesuai mata kuliah yang diampu sebagai bahan ajar yang dapat dibaca oleh seluruh mahasiswa. Dalam praktiknya, perkuliahan dapat dilakukan dengan 2 opsi, yaitu dilakukan selama satu semester dengan menggunakan Google Site dan beberapa kali via zoom atau setiap mata kuliah dilakukan hanya sebulan sekali secara bergantian.

Sementara itu, Puket II Ust. Dr.(Cad) Subaiki Ikhwan, M.Pd, memberikan evaluasi terkait perkuliahan yang dilakukan pada semester ganjil lalu. Ia menilai bahwa perkuliahan pada semester ganjil dapat dikatakan belum maksimal. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor sinyal dan kuota, dan bahkan sebagian mahasiswa tidak memiliki hp sebagai media pembelajaran. Sehingga sebagian besar mahasiswa tidak mengikuti perkuliahan semester ganjil dengan maksimal, bahkan, kehadiran mahasiswa masih di bawah 50%. Oleh karena itu, pihak STAI Nurul Iman berupaya untuk membuat sistem perkuliahan dengan aplikasi Google Site, agar para mahasiswa dapat mengikuti pembelajaran dengan tidak sampai membebani kuota mereka, dan hanya memakai Zoom untuk beberapa pertemuan saja. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir beban mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Permasalahan ini juga diutarakan oleh Dosen Prodi Ahwal As Syaksiyyah, Ust. Abdul Aziz, MA, MA.Hk, ia mengeluhkan bahwa banyak mahasiswa yang tidak konsisten dalam melaksanakan pembelajaran, terlebih pada saat UTS dan UAS. Hal tersebut membuat para dosen bingung dalam memberikan nilai pada mahasiswa yang bersangkutan.

Dalam sesi diskusi, Kaprodi Bahasa Arab Ust. Dr. H. Moh. Samsudin, MA juga menyarankan agar perkuliahan tetap dilaksanakan selama satu semester agar materi yang disampaikan lebih maksimal melalui berbagai aplikasi yang ditawarkan Nurul Iman. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Dosen Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Ust.  Nurkholis Sofwan, M.Ag. Ia lebih sepakat dengan opsi pembelajaran yang dilaksanakan selama satu semester. Menurutnya, pembelajaran satu mata kuliah selama satu bulan dinilai kurang efektif dan akan banyak materi yang tidak tuntas. Ia juga menawarkan perkuliahan dapat dilakukan melalui Google Classroom dengan segala kelebihannya. Selain itu, ia mengapresiasi saran dari Puket I untuk membuat modul dari mata kuliah diampu para dosen, mengingat buku ajar tersebut dapat bermanfaat untuk kepangkatan dosen. Dari berbagai tanggapan yang ada, mayoritas dosen lebih sepakat untuk melaksanakan pembelajaran selama satu semester.

Di akhir sesi, Ust. Ali Mutakin, MA.Hk menegaskan bahwa perkuliahan selama satu semester ke depan harus dilakukan via online tanpa ada pertemuan langsung, sesuai dengan peraturan yang ada. Oleh karena itu, diharapkan agar para dosen dapat mengindahkan keputusan yang telah ditetapkan tersebut. Selain itu, ia juga menginformasikan bahwa STAINI akan mengadakan Webinar Internasional Bahasa Arab untuk memperingati Hari Bahasa Arab Sedunia. Ia mengajak para dosen agar turut serta dalam Webinar tersebut, serta menerima berbagai masukan dari para dosen untuk menyelenggarakan berbagai webinar lain selama satu tahun ke depan. Sementara itu, Kepala TU STAI Nurul Iman, Ust. Nadzif Ali Asyari, M.H juga turut memberikan informasi bahwa saat ini beberapa Dosen Nurul Iman tengah mempersiapkan untuk pengajuan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), inpassing, hingga kenaikan pangkat jabatan fungsional dosen yang akan diselenggarakan pada Bulan April 2021 mendatang. Oleh karena itu, ia mengimbau agar para dosen menyiapkan berbagai persyaratannya untuk memudahkan proses administrasi di Kopertais I Wilayah DKI Jakarta. Saat menutup acara, Host Rapat Evaluasi, Ust. Ghufron Maksum, M.H juga menginformasikan bahwa bulan Januari akan dilaksanakan launching NIAT (Nurul Iman Arabic Test) yang setara dengan TOAFL yang diselenggarakan di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

WEBINAR INTERNASIONAL “KARIKATUR NABI DALAM PERSPEKTIF SYARIAH”

i

 

Nurul Iman News, (Senin, 7/12/2020). Kontroversi kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW di Prancis terus memancing reaksi dunia internasional. Hal ini diawali pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang tidak akan mencopot karikatur tersebut.

iReaksi juga datang dari Majelis Ulama Indonesia yang meminta Presiden Macron segera mencabut ucapannya dan minta maaf. Upaya menghina dan merendahkan agama tak seharusnya dilakukan antar sesama manusia. Kontroversi kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW bermula dari aktivitas guru sejarah Samuel Paty. Saat itu dia sedang mengajar di kelas kebebasan berbicara dengan menunjukkan gambar junjungan Umat Islam tersebut. Gambar kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW berasal dari majalah Charlie Hebdo terbitan tahun 2015. Komunitas mengajukan protes dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal, yang pelakunya adalah seorang ekstremis asal Checnya yang baru berusia 18 tahun.

Kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW dari Charlie Hebdo telah memancing kontroversi sejak kali pertama terbit. Di tahun 2015, ada 12 orang dibantai di kantor majalah tersebut. Terlepas dari gambar yang memancing kontroversi, umat Islam tidak pernah menggambar sosok kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW. Di Prancis, kartun Charlie Hebdo menjadi ikon tradisi sekuler sejak revolusi.

o       Sebagai Umat Islam, tentunya kita harus mengetahui bagaimana sejatinya hukum dan akibat membuat gambar atau karikatur Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, Perguruan Tinggi Agama Islam sebagai lembaga tertinggi pendidikan bidang keagamaan, perlu kiranya memberikan pemahaman kepada seluruh Umat Islam tentang bagaimana sudut pandang syari’ah melihat fenomena tersebut.

Menanggapi kejadian tersebut maka Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman berupaya mengkaji secara mendalam dan spesifik terkait fenomena yang terjadi, dengan tema “Karikatur Nabi Dalam Perspektif Syari’ah”. Kegiatan yang berlangsung secara daring ini dilaksanakan pada hari ahad tanggal 15 November 2020, di Moderatori oleh Puket I Ust. Ali Mutakin, MA.Hk dengan  Narasumber Syaikh Dr. El Daw Awad El Karim Ali dari Emburman University Of Sudan dan Dr. KH. Ahmad Fudhaili, M.Ag dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Menurut Beliau Dr KH. Ahmad Fudhaili, menanggapi fenomena tersebut “Selain dengan cara memboikot produk-produk mereka,  juga perlu adanya langkah diplomasi untuk tersampainya ketidaksepakatan perihal dibuatnya karikatur Rasulullah SAW.” Begitupun Menurut Dr. El Daw Awad El Karim Ali, beliau menyampaikan sebagaimana Rasulullah SAW ketika di hadapkan dengan musuh-musuh, beliau tidak membalas dengan kejahatan pula akan tetapi beliau balas dengan kebaikan sehingga bagaimanapun orang lain menghinakan Rasulullah SAW, tidak akan menjadi hina, akan tetapi jika kita menghadapi fenomena ini dengan cara yang hina, maka kita sendiri nantinya yang akan menjadi hina. Red.