Workshop Penguatan Kelembagaan dan Tata Kelola PTKIS

STAI Nurul Iman
Bandung, 14 Oktober 2021, – STAI Nurul Iman Parung Bogor turut serta dalam kegiatan Workshop Penguatan Kelembagaan dan Tata Kelola PTKIS, Workshop Peningkatan Mutu Akreditasi Program Studi pada PTKIS, Workshop Penguatan Tenaga Kependidikan pada PTKIS, dan Workshop Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) Kopertais Wilayah II Jawa Barat. Kegiatan ini dilaksanakan secara Luring (Luar Jaringan) pada Senin dan Kamis, 11 dan 14 Oktober 2021 di Hotel Grand Pasundan Bandung.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kopertais Wilayah II Jawa Barat ini, merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi juga program studi. Terdapat 4 perwakilan dari STAI Nurul Iman Parung Bogor yang menghadiri kegiatan ini, yakni Dr. (Can) Hj. Umi Waheeda binti H. Abdul Rahman, S.Psi., M.Si, selaku Ketua STAI Nurul Iman Parung Bogor, Serta tiga orang dosen Mahbub Zuhri, M.Pd. (Ketua LPPM STAI Nurul Iman), Subaiki Ikhwan, M.Pd (Wakil II Bidang Administrasi), dan Nadzif Ali Asyari, M.H (Kabag Tata Usaha dan Operator PDDIKTI STAI Nurul Iman Parung Bogor)
 STAI Nurul Iman 1
Dr. (Can). Hj. Umi Waheeda binti H. Abdul Rahman, S.Psi., M.Si Ketua STAI Nurul Iman Parung Bogor melalui sambungan seluler mengemukakan bahwa, “Dalam mewujudkan Kualitas STAI Nurul Iman Parung Bogor harus diimbangi dengan peningkatan kualitas Akreditasi Program Studi dan Institusi, perlu adanya kerja keras semua pihak terutama para dosen untuk meningkatkan kualitas STAI Nurul Iman Parung Bogor melalui Tridharma Perguran Tinggi (Pendidikan/Pengajaran, Pengabdian Masyarakat, Penelitian, dan Penunjang lainnya.”
Umi Waheeda juga mengajak kepada segenap dosen, Ketua Lembaga Penjamin Mutu (LPM) Hb. Idrus Al Haddar, ST., MM, dan tim akreditasi STAI Nurul Iman Parung Bogor untuk bersama-sama meningkatkan kualitas institusi maupun program studi.
Ketua STAI Nurul Iman Parung Bogor pun meyakini pentingnya kerjasama (team work) seluruh stake holder menjadi kunci kemajuan perguruan tinggi baik untuk tingkat nasional maupun internasional. “Setiap kita punya kewajiban membangun mutu perguruan tinggi dan program studi,” Demikian dikemukakan oleh Umi Waheeda.
“Saat ini kita memiliki 3 program studi yaitu Ahwal Al Syakhsiyyah, Pendidikan Bahasa Arab dan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir, serta institusi STAI Nurul Iman yang sudah terakreditasi dan Insya Allah dalam waktu dekat akan segera terbit 3 Program Studi Baru yakni Hukum Ekonomi Syariah, Manajemen Pendidikan Islam, dan Ilmu Hadits sehingga akan merubah nomenklatur STAI Nurul Iman menjadi Institut Agama Islam Nurul Iman.” Tegas Umi Waheeda.
Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si, Selaku Ketua Koordinator Kopertais Wilayah II Jawa Barat menyampaikan kepada seluruh audien yang hadir pada kegiatan tersebut, memberikan sambutan hangat kepada audien bahwa salah satu Srikandinya Kopertais Wilayah II Jawa Barat itu ada di STAI Nurul Iman, yaitu Dr. (Can) Umi Waheeda binti H. Abdul Rahman, S.Psi., M.Si.
Melalui kegiatan tersebut, Beliau menyampaikan bahwa “Tata Kelola dalam meningkatkan mutu Perguruan Tinggai adalah melalui Akreditasi. Akreditasi merupakan kegiatan penilaian sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (Pasal 55 (1) Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012). Perguruan tinggi juga dapat berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi.” Ungkap Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si.
Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si juga memberikan motivasi kepada para peserta yang hadir untuk bersama-sama membangun dan meningkatkan mutu Institusi dan Program Studi di Perguruan Tinggi masing-masing.
Narasumber lainnya, pada sesi workshop penguatan tenaga kependidikan pada PTKIS di Lingkungan Kopertais Wilayah II Jawa Barat dengan narasumber Dr. Abdul Rahman, Ph.D., S.K.M, M.Si yang dimoderatori oleh Drs. Nasihudin, M.Pd (Wakil Sekretaris Kopertais II Jawa Barat) memaparkan tentang Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pada Perguruan Tinggi menyampaikan motto “Menulis apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang ditulis”, hal ini senada dengan dasar hukum Peraturan Menteri Negara PAN dan RB No. 35 tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintah.
Pada kesempatan yang sama Idik Nursidik, ST., M.T (LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat) selaku narasumber pada materi Administrasi Pelaporan PD DIKTI yang dimoderatori oleh H. Cecep Nurul Alam, ST., MT (Bidang Ahli IT Kopertais II Jawa Barat) menyampaikan bahwa pada pelaporan PD DIKTI tiap perguruan tinggi harus konsisten, periode semester ganjil ditutup di bulan April dan periode semester genap ditutup di bulan oktober setiap tahun.
Pada Sesi terakhir, baik pada workshop pelatihan kepemimpinan mahasiswa maupun workshop penguatan tenaga kependidikan pada PTKIS, agenda penutupan disampaikan oleh tim Kopertais Wilayah II Jawa Barat, beliau sangat mengapresiasi narasumber dan berterima kasih kepada para peserta yang antusias mengikuti kegiatan workshop ini yang dilaksanakan pada hari senin dan kamis pada pukul 07.30 – 17:15 WIB. “Sebuah perguruan tinggi perlu melakukan upaya-upaya untuk menjadi perguruan tinggi yang berkualitas dengan menunjukkan bukti-bukti yang shahih. Digitalisasi berkas akreditasi dan instrumen penting perguruan tinggi perlu dilakukan serta menyimpannya pada dashboard (tempat terpusat)”. Demikian dikemukakan oleh Drs. H. Yaya Suryana, M.Ag (Wakil Koordinator Bidang Administrasi Umum).
“Perlunya saling sapa, duduk bersama membahas kualitas perguruan tinggi dan Program Studi, memberikan sesuatu yang terbaik bagi perguruan tinggi dan Program Studi, bergegas dan antusias dalam melakukan pekerjaan.” Jelas Drs. H. Yaya Suryana, M.Ag.
Kegiatan ini terselenggara atas Kepanitiaan dari Kopertais Wilayah II Jawa Barat selaku tim pelaksana tugas, dengan dihadiri oleh seluruh PTKIS binaan dengan jumlah 145 perguruan tinggi dibawah Kopertais Wilayah II Jawa Barat ditambah 15 perguruan tinggi migrasi dari Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten, serta 8 perguruan tinggi baru, yang baru bergabung di Kopertais II Jawa Barat sehingga total perguruan tinggi yang hadir 168 PTKIS.
Penulis : Nadzif Ali Asyari, M.H – Dosen STAI Nurul Iman Parung Bogor

WORKSHOP METODE PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASAYARAKAT DI BANDUNG

Bogor – STAI Nurul Iman Bogor mendelegasikan dua dosennya untuk mengikuti kegiatan workshop metode penelitian dan pengabdian kepada masyarakat bagi dosen PTKIS yang diselenggarakan oleh Kopertais II Wilayah Jawa Barat yang bertempat di Hotel Grand Pasundan, Bandung. Dua dosen tersebut yaitu Dr. Ali Mutakin, MA.Hk. selaku Wakil Ketua Bidang Akademik dan Nurkholis Sofwan, M.Ag selaku dosen tetap pada prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.
Kegiatan tersebut dibagi menjadi dua agenda, yaitu workshop metode penelitian yang diwakili oleh Dr. Ali Mutakin, MA.Hk dan workshop metode pengabdian kepada masyarakat diwakili oleh Nurkholis Sofwan, M.Ag. Dalam workshop metode penelitian, para narasumber mengarahkan agar para dosen PTKIS dapat turut serta mengikuti penelitian LITAPDIMAS yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI. Materi yang disampaikan berupa langkah-langkah melakukan penelitian, membuat artikel jurnal, hingga submit ke LITAPDIMAS Kemenag RI. Di akhir sesi, kegiatan workshop metode penelitian diisi dengan motivasi yang cukup menarik agar para dosen lebih semangat dalam menulis artikel penelitian.
Di ruang lain, workshop metode pengabdian kepada masyarakat (PkM) juga tidak kalah penting. Pasalnya, kegiatan metode pengabdian kepada masyarakat sangat jarang dilaksanakan. Padahal, kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu komponen utama dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satu narasumber, Dr. Yadi Royadi, menuturkan bahwa PkM adalah kewajiban yang sejajar dengan Tri Dharama Perguruan Tinggi lainnya, yaitu pendidikan dan penelitian. Kegiatan PkM yang dijalankan oleh mayoritas dosen PTKIS saat ini masih berupa khutbah, ceramah, dan mengisi majelis ta’lim, yang sifatnya normatif. Padahal, masih banyak kegiatan PkM yang lebih bermanfaat atau lebih terasa manfaatnya bagi masyarakat. Misalnya, pada Prodi Ahwal Al-Syakhsiyyah (Hukum Keluarga Islam) dapat membuat Rumah Nikah, sebagai tempat atau media untuk mendidik, mendampingi, dan menjadi solusi atas berbagai permasalahan keluarga. Karena jika dilihat dari data Pengadilan Agama, kasus-kasus perceraian di setiap daerah begitu tinggi, khususnya terjadi pada keluarga yang masih berusia muda. Rumah Nikah yang didirikan para Dosen PTKIS tersebut diharapkan dapat menekan angka perceraian di setiap tahunnya. Inilah yang harus dilakukan oleh para Dosen PTKIS dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Untuk merealisasikan hal tersebut, PTKIS perlu bermitra dengan PTKIS atau institusi lain sebagai pendukung operasional kegiatan, misalnya kerjasama dengan perusahaan ASTRA yang mensupport dana, alat-alat, dan sebagainya. Karena kegiatan PkM itu tidak hanya dilakukan oleh satu bidang prodi, namun dapat dilakukan kerjasama antar prodi secara interdisipliner. Sebagai contoh, Dosen Fakultas Saintek dan Ekonomi mengembangkan salah kebun jeruk di Bandung, mereka membentuk kelompok tani jeruk, kemudian bekerjasama dengan ASTRA untuk mendanai kegiatan tersebut dan menjadikan kebun jeruk sebagai tempat wisata. Kegiatan tersebut melibatkan fakultas lain yang mensupport pupuk, dan sebagainya. Sehingga kebun jeruk yang dibina dosen-dosen tersebut dapat berkembang dan menjadikan masyarakat lebih sejahtera dan mandiri.
Narasumber kedua, Dr. Asep Kusnawan, M.Si menjelaskan bahwa metode pengabdian kepada masyarakat perlu diterapkan dalam satu mata kuliah khusus. Hal tersebut bertujuan agar kegiatan PkM dapat dilaksanakan secara matang dan terkonsep. Kegiatan PkM adalah kegiatan yang menunjukkan manfaat PTKIS bagi masyarakat. PkM dapat lakukan pada setiap prodi, fakultas, maupun Perguruan Tinggi sesuai dengan ke-khas-an masing-masing. Dengan demikian, STAI Nurul Iman dengan ke-khas-annya yang mumpuni dalam bidang wirausaha (enterpreneurship), dapat melakukan pengabdian kepada masyarakat miskin dengan cara memberikan pelatihan wirasusaha, mendampingi, mengontrol, dan mengawasi perkembangan wirausaha masyarakat (UMKM) yang dibina Dosen-dosen STAI Nurul Iman sehingga menjadikan mereka mandiri dan sejahtera. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat STAI Nurul Iman dalam hal wirausaha dapat diwujudkan dengan melakukan kerjasama dengan berbagai perusahaan, seperti ASTRA, BUMN, dan sebagainya yang memiliki dana sosial (CSR) untuk disalurkan kepada masyarakat sebagai modal usaha mereka. Dengan demikian, kegiatan PkM diharapkan dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat yang dibina oleh dosen STAI Nurul Iman.
Dr. Ramdani, narasumber pada sesi ketiga, menjelaskan bahwa PkM akan dinilai lebih berbobot dan berkualitas jika sesuai dengan bidangnya masing-masing. Setelah para dosen PTKIS melaksanakan kegiatan PkM, mereka diwajibkan untuk membuat laporan secara lengkap. Laporan dapat dibuat per BAB (BAB I sampai BAB V). Selain itu, laporan PkM juga perlu disajikan dalam bentuk artikel, yang berisi permasalahan, metode pengabdian, dan analisis hasil pengabdian. Secara rinci, Dr. Ramdani menjelaskan bahwa laporan PkM dalam bentuk artikel dapat ditulis dengan menjelaskan analisis situasi, sasaran, identifikasi, tujuan pengabdian, dan rangkaian kajian teori atau hasil riset pengabdian terdahulu. Kemudian pada sub bab selanjutnya memuat keterangan tempat, waktu, demografi dan program-program yang diselenggarakan. Setelah itu baru menjelaskan hasil dan pembahasannya, kemudian ditutup dengan kesimpulan. Berbagai artikel yang dapat menjadi rujukan penulisan artikel pengabdian masyarakat dapat dilihat di website Asosiasi Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (AJPkM). Dengan demikian, pengabdian kepada masyarakat bagi dosen-dosen STAI Nurul Iman mestinya harus lebih berkembang,  tidak hanya sekedar mengisi khutbah, mengisi majelis taklim, dan sebagainya. Melainkan dengan kegiatan lain yang lebih jelas kebermanfatannya bagi masyarakat. [NS]
Oleh: Nurkholis Sofwan, M.Ag

Workshop Penulisan Artikel dan Publikasi Pada Jurnal Bereputasi

o1

Nurul Iman News, (Ahad, 21/02/2021). Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nurul Iman Parung, Bogor, mengadakan “Workshop Penulisan Artikel dan Publikasi Pada Jurnal Bereputasi” pada Sabtu, 20 Februari 2021 pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB via Zoom Meeting.

Kegiatan ini di isi Oleh Dr. Ahmad Khoirul Fata yang saat ini bekerja di Fakultas Ushuluddin & Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai (IAIN / Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai) Gorontalo, Indonesia. Sarjana Teologi & Filsafat Islam & MA Pemikiran Islam dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Doktor Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Indonesia.

Dalam penyampaiannya Dr. Ahmad Khoirul Fata menyebutkan bahwa untuk menjadi penulis tidak harus orang yang pintar “hanya perlu lebih banyak pengalaman” tegasnya.

Selain itu, menjadi penulis juga perlu banyak membaca untuk menambah khazanah keilmuan serta wawasan terkait objek tertentu untuk dikaji lebih dalam baik secara historis maupun secara keilmiahannya.

Di akhir sesi Dr. Ali Mutakin menyampaikan beberapa poin berkenaan dengan motivasi kepada dosen-dosen untuk bisa lebih berkontribusi dalam dunia kepenulisan sebagai implementasi kelimuan yang sudah didapat.

Workshop ini di akhiri dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh Ust. Mahmuruddin, M.Ag selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.

 

 

Ali Mahrus Alfiyan. S.Ag.

PELATIHAN GOOGLE SITES DAN PERMULAAN SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2020-2021

zoom

Nurul Iman News, (Selasa, 29/12/2020). Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School mengadakan kegiatan pertemuan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 24 Desember 2020, pukul. 09.00 – 13.00 WIB via Aplikasi Zoom , Adapun nama kegiatan ini yaitu : “Pelatihan Google Sites dan Permulaan Semester Genap Tahun Akademik 2020-2021 ”. Adapun tujuan kegiatan ini yaitu : Mengenalkan dan membiasakan Dewan Guru/Dosen dalam menggunakan aplikasi Google Sites & memperkenalkan sistematika penilaian serta beberapa media penunjang pembelajaran via Daring (online). Para peserta adalah Dewan Pengajar dan Dosen dari tingkat SD, SMP, SMA dan STAI Nurul Iman. Dengan tema  “Pembelajaran Daring yang Efektif dan Efesien”. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Yang Mulia Dr. (Cad) Umi Waheeda binti Abdul Rahman, S.Psi., M.Si.

Pendidikan sebentar lagi memasuki tahun ajaran baru 2020/2021 tepatnya semester II atau semester Genap. Pada tahun ajaran baru saat ini berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana kita semua masih dalam suasana pandemi. Situasi seperti ini menghambat perkembangan dan pertumbuhan, tidak hanya sektor ekonomi tetapi juga pendidikan. Sistem pendidikan di negara kita berubah sejak bulan Maret 2020 hingga sekarang. Kegiatan belajar-mengajar menyesuaikan dari tatap muka di dalam kelas menjadi kegiatan belajar-mengajar secara daring (online). Perubahan tersebut harap dimaklumi karena memang merupakan salah satu cara memutus rantai penyebaran virus, sehingga pembelajaran harus dilakukan di rumah.

zoom2Pemerintah melalui Menteri Kesehatan mengeluarkan Protokol New Normal untuk memulai tatanan baru bekerja, baik di kantor maupun industri. Protokol tersebut mengharuskan masyarakat kita agar hidup bersih dan menjaga kesehatan. Hidup bersih dimulai dari diri sendiri dengan selalu mencuci tangan dan memakai masker untuk menjaga kesehatan. Dalam protokol tersebut juga mengharapkan agar kantor dan industri kita menyiapkan tempat cuci tangan & menjaga jarak tetap harus dilakukan dengan memberi tanda di lantai. Kondisi masyarakat kita sekarang menjadi tiga kategori akibat dampak visus corona, pertama zona merah, kedua setengah zona merah dan setengah zona hijau dan ketiga zona hijau. Kondisi ini sangat mempengaruhi pergerakan masyarakat kita dalam melakukan aktivitas sosial termasuk melaksanakan pendidikan. Sehingga diperlukan panduan khusus dalam melakukan aktivitas agar penyebaran virus tidak semakin luas.

Dari uraian di atas maka timbul masalah pertama, bagaimana agar pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar berjalan dengan baik?. Kedua, model pembelajaran apa yang digunakan agar peserta didik tidak terkena penyebaran virus corona? . Melihat kenyataan ini yang perlu kita perhatikan adalah pertama, memberikan masukan kepada pengambil kebijakan bagaimana agar pelaksanaan kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik. Kedua, memberikan masukan kepada pengambil kebijakan model pembelajaran apa yang digunakan selama menjalani kegiatan belajar mengajar agar peserta didik tidak terkena penyebaran virus corona.

Proses kegiatan belajar mengajar kondisi sekarang ini dapat kita lakukan dengan memperhatikan beberapa hal. Pertama adalah berkoordinasi dengan gugus satuan tugas Covid-19 mengenai kondisi bisa tidak dilaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Berkoordinasi dengan satuan tugas Covid-19 ini sangat penting sekali dalam menentukan keberadaan kita saat ini. Dengan mengetahui kondisi keberadaan kita maka kita dapat membuat sebuah rencana kegiatan belajar mengajar. Kondisi suatu daerah dengan daerah lain berbeda, jika kondisi daerah tersebut zona hijau maka dapat melaksanakan kegiatan belajar di kelas. Pemerintah memberikan waktu kepada sekolah untuk mempersiapkan fasilitas protokol kesehatan di sekolah. Seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, penataan kelas dan penyemprotan disinfektan.

Dari beberapa kenyataan di atas kita sebagai para penerus bangsa yang berposisikan sebagai penggerak di bidang pendidikan perlu kiranya mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat menumbuh-kembangkan minat, baik para pendidik atau peserta didik untuk senantiasa berkomitmen menjaga keberlangsungan pendidikan yang ada di Indonesia ini, tentunya dengan berbagai upaya yang tidak menyalahi aturan, baik dari pemerintah pusat maupun daerah yang berlaku saat ini. Red.

STAI NURUL IMAN ADAKAN RAPAT EVALUASI PERKULIAHAN DARING (ONLINE)

n

Nurul Iman News, (Jumat, 18/12/2020). Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nurul Iman Parung, Bogor mengadakan Rapat Evaluasi Perkuliahan Semester Ganjil dan Persiapan Perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 pada Kamis, 17 Desember 2020 pukul 10.00 WIB hingga 11.45 WIB via Zoom Meeting. Rapat evaluasi tersebut dihadiri oleh seluruh jajaran Puket, TU, para Kaprodi dan jajaran Dosen STAI Nurul Iman dari berbagai Prodi. Dalam pembukaan, Puket I Ust. Dr. (Cad) Ali Mutakin, MA.Hk, menyampaikan bahwa perkuliahan semester genap TA 2020/2021 akan dilaksanakan pada 4 Januari 2021 dengan tetap memakai sistem daring (dalam jaringan). Hal tersebut mengingat bahwa daerah Bogor masih dalam zona merah penyebaran covid-19.

Selain itu, ia juga menawarkan sistem pembelajaran melalui 3 aplikasi, yaitu Zoom, Grup WhatsApp, dan Google Site. Dimana aplikasi yang ketiga tersebut akan diadakan pelatihan terlebih dahulu untuk para dosen dan guru di lingkungan Yayasan Nurul Iman pada 22 Desember 2020 mendatang. Untuk memaksimalkan pembelajaran daring, Ust. Ali Mutakin mengharapkan agar seluruh dosen membuat e-book atau modul sesuai mata kuliah yang diampu sebagai bahan ajar yang dapat dibaca oleh seluruh mahasiswa. Dalam praktiknya, perkuliahan dapat dilakukan dengan 2 opsi, yaitu dilakukan selama satu semester dengan menggunakan Google Site dan beberapa kali via zoom atau setiap mata kuliah dilakukan hanya sebulan sekali secara bergantian.

Sementara itu, Puket II Ust. Dr.(Cad) Subaiki Ikhwan, M.Pd, memberikan evaluasi terkait perkuliahan yang dilakukan pada semester ganjil lalu. Ia menilai bahwa perkuliahan pada semester ganjil dapat dikatakan belum maksimal. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor sinyal dan kuota, dan bahkan sebagian mahasiswa tidak memiliki hp sebagai media pembelajaran. Sehingga sebagian besar mahasiswa tidak mengikuti perkuliahan semester ganjil dengan maksimal, bahkan, kehadiran mahasiswa masih di bawah 50%. Oleh karena itu, pihak STAI Nurul Iman berupaya untuk membuat sistem perkuliahan dengan aplikasi Google Site, agar para mahasiswa dapat mengikuti pembelajaran dengan tidak sampai membebani kuota mereka, dan hanya memakai Zoom untuk beberapa pertemuan saja. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir beban mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Permasalahan ini juga diutarakan oleh Dosen Prodi Ahwal As Syaksiyyah, Ust. Abdul Aziz, MA, MA.Hk, ia mengeluhkan bahwa banyak mahasiswa yang tidak konsisten dalam melaksanakan pembelajaran, terlebih pada saat UTS dan UAS. Hal tersebut membuat para dosen bingung dalam memberikan nilai pada mahasiswa yang bersangkutan.

Dalam sesi diskusi, Kaprodi Bahasa Arab Ust. Dr. H. Moh. Samsudin, MA juga menyarankan agar perkuliahan tetap dilaksanakan selama satu semester agar materi yang disampaikan lebih maksimal melalui berbagai aplikasi yang ditawarkan Nurul Iman. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Dosen Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Ust.  Nurkholis Sofwan, M.Ag. Ia lebih sepakat dengan opsi pembelajaran yang dilaksanakan selama satu semester. Menurutnya, pembelajaran satu mata kuliah selama satu bulan dinilai kurang efektif dan akan banyak materi yang tidak tuntas. Ia juga menawarkan perkuliahan dapat dilakukan melalui Google Classroom dengan segala kelebihannya. Selain itu, ia mengapresiasi saran dari Puket I untuk membuat modul dari mata kuliah diampu para dosen, mengingat buku ajar tersebut dapat bermanfaat untuk kepangkatan dosen. Dari berbagai tanggapan yang ada, mayoritas dosen lebih sepakat untuk melaksanakan pembelajaran selama satu semester.

Di akhir sesi, Ust. Ali Mutakin, MA.Hk menegaskan bahwa perkuliahan selama satu semester ke depan harus dilakukan via online tanpa ada pertemuan langsung, sesuai dengan peraturan yang ada. Oleh karena itu, diharapkan agar para dosen dapat mengindahkan keputusan yang telah ditetapkan tersebut. Selain itu, ia juga menginformasikan bahwa STAINI akan mengadakan Webinar Internasional Bahasa Arab untuk memperingati Hari Bahasa Arab Sedunia. Ia mengajak para dosen agar turut serta dalam Webinar tersebut, serta menerima berbagai masukan dari para dosen untuk menyelenggarakan berbagai webinar lain selama satu tahun ke depan. Sementara itu, Kepala TU STAI Nurul Iman, Ust. Nadzif Ali Asyari, M.H juga turut memberikan informasi bahwa saat ini beberapa Dosen Nurul Iman tengah mempersiapkan untuk pengajuan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), inpassing, hingga kenaikan pangkat jabatan fungsional dosen yang akan diselenggarakan pada Bulan April 2021 mendatang. Oleh karena itu, ia mengimbau agar para dosen menyiapkan berbagai persyaratannya untuk memudahkan proses administrasi di Kopertais I Wilayah DKI Jakarta. Saat menutup acara, Host Rapat Evaluasi, Ust. Ghufron Maksum, M.H juga menginformasikan bahwa bulan Januari akan dilaksanakan launching NIAT (Nurul Iman Arabic Test) yang setara dengan TOAFL yang diselenggarakan di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

WEBINAR INTERNASIONAL “KARIKATUR NABI DALAM PERSPEKTIF SYARIAH”

i

 

Nurul Iman News, (Senin, 7/12/2020). Kontroversi kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW di Prancis terus memancing reaksi dunia internasional. Hal ini diawali pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang tidak akan mencopot karikatur tersebut.

iReaksi juga datang dari Majelis Ulama Indonesia yang meminta Presiden Macron segera mencabut ucapannya dan minta maaf. Upaya menghina dan merendahkan agama tak seharusnya dilakukan antar sesama manusia. Kontroversi kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW bermula dari aktivitas guru sejarah Samuel Paty. Saat itu dia sedang mengajar di kelas kebebasan berbicara dengan menunjukkan gambar junjungan Umat Islam tersebut. Gambar kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW berasal dari majalah Charlie Hebdo terbitan tahun 2015. Komunitas mengajukan protes dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal, yang pelakunya adalah seorang ekstremis asal Checnya yang baru berusia 18 tahun.

Kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW dari Charlie Hebdo telah memancing kontroversi sejak kali pertama terbit. Di tahun 2015, ada 12 orang dibantai di kantor majalah tersebut. Terlepas dari gambar yang memancing kontroversi, umat Islam tidak pernah menggambar sosok kartun dan karikatur Nabi Muhammad SAW. Di Prancis, kartun Charlie Hebdo menjadi ikon tradisi sekuler sejak revolusi.

o       Sebagai Umat Islam, tentunya kita harus mengetahui bagaimana sejatinya hukum dan akibat membuat gambar atau karikatur Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, Perguruan Tinggi Agama Islam sebagai lembaga tertinggi pendidikan bidang keagamaan, perlu kiranya memberikan pemahaman kepada seluruh Umat Islam tentang bagaimana sudut pandang syari’ah melihat fenomena tersebut.

Menanggapi kejadian tersebut maka Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman berupaya mengkaji secara mendalam dan spesifik terkait fenomena yang terjadi, dengan tema “Karikatur Nabi Dalam Perspektif Syari’ah”. Kegiatan yang berlangsung secara daring ini dilaksanakan pada hari ahad tanggal 15 November 2020, di Moderatori oleh Puket I Ust. Ali Mutakin, MA.Hk dengan  Narasumber Syaikh Dr. El Daw Awad El Karim Ali dari Emburman University Of Sudan dan Dr. KH. Ahmad Fudhaili, M.Ag dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Menurut Beliau Dr KH. Ahmad Fudhaili, menanggapi fenomena tersebut “Selain dengan cara memboikot produk-produk mereka,  juga perlu adanya langkah diplomasi untuk tersampainya ketidaksepakatan perihal dibuatnya karikatur Rasulullah SAW.” Begitupun Menurut Dr. El Daw Awad El Karim Ali, beliau menyampaikan sebagaimana Rasulullah SAW ketika di hadapkan dengan musuh-musuh, beliau tidak membalas dengan kejahatan pula akan tetapi beliau balas dengan kebaikan sehingga bagaimanapun orang lain menghinakan Rasulullah SAW, tidak akan menjadi hina, akan tetapi jika kita menghadapi fenomena ini dengan cara yang hina, maka kita sendiri nantinya yang akan menjadi hina. Red.

Ber-PENDIDIKAN-lah

IMG-20181126-WA0008Pendidikan merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan kita. Pendidikan menjadi barometer kemajuan suatu bangsa. Pun demikian dengan bangsa Indonesia. Kemajuan bangsa Indonesia bergantung pada baik tidaknya pendidikan yang diimplementasikan di Indonesia.
Pendidikan sendiri secara umum dapat diartikan suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga, menjadi orang yang terdidik itu sangatlah diperlukan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi :
كن عالما اومتعلما اومستمعا اومحبا ولا تكن خامسا فتهلك (روه البيهقي
Artinya : “ Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai) atau orang yang belajar (pelajar) atau orang yang mendengarkan ilmu dan atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka engkau akan celaka.” (H.R. Baihaqi).
Dari hadist di atas, Rasulullah saw menganjurkan kita untuk menjadi orang yang berilmu dan mengingatkan kita agar tidak termasuk ke dalam golongan yang kelima, yakni orang yang tidak pandai, orang yang tidak belajar ilmu, orang yang tidak mendengarkan ilmu dan orang yang tidak mencintai ilmu. Dan orang kelima yang dimaksud dalam hadist tersebut adalah orang yang dengan sengaja menutup hati dan dirinya terhadap ilmu.
Dalam dunia pendidikan, keberlangsungan dan keberhasilan proses belajar mengajar bukan hanya dipengaruhi oleh faktor intelektual saja, melainkan juga oleh faktor-faktor nonintelektual lain yang tidak kalah penting dalam menentukan hasil belajar seseorang, salah satunya adalah kemampuan seorang pelajar untuk memotivasi dirinya. Mengutip pendapat Daniel Goleman (2004 : 4), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20 % bagi kesuksesan , sedangkan 80 % adalah sumbangan faktor-faktor kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustrasi, mengendalikan desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama.
Motivasi sangat penting dalam kegiatan belajar, sebab dengan adanya motivasi dapat mendorong semangat belajar. Akan tetapi sebaliknya jika kurang adanya motivasi maka akan melemahkan semangat belajar. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar.
Di samping motivasi yang besar, tentunya ada aspek lain yang berperan cukup dominan, yaitu adanya fasilitas penunjang biaya kuliah (Tuition Fee).
Berbicara mengenai biaya kuliah memang nampaknya agak membuat kita berpikir ulang untuk melanjutkan pendidikan hingga pascasarjana, karena memutuskan untuk kuliah sampai jenjang magister itu bukan lah hal yang mudah dan tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit pula.
Namun demikian, Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School Parung, Bogor dalam hal ini adalah Umi Waheeda binti H. Abdul Rahman, S.Psi., M.Si tak pernah merasa keberatan untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada santri-santrinya. Tak cukup sampai di situ, Umi Waheeda juga masih terus memperhatikan dan memberikan beasiswa kepada segenap tenaga pendidik (dewan Asatidz) untuk melanjutkan pendidikan hingga S 2 dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik di Nurul Iman dengan harapan agar kelak di kemudian hari menjadi guru dan pengajar yang lebih berkompeten dan juga secara berproses dapat berdampak positif terhadap peningkatan stabilitas dan kemajuan pendidikan di Nurul Iman secara holistik pada masa yang akan datang, mengingat pendidikan merupakan garda terdepan dalam mencetak generasi unggul dan berkarakter sementara guru adalah ujung tombak dalam proses tersebut .
Dari program beasiswa tersebut, ada dua perguruan tinggi yang menjadi destinasi utama yakni Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (PTIQ Jakarta) dan Institut Ilmu Qur’an (IIQ Jakarta). Hingga saat ini tercatat sekitar sembilan belas dewan asatidz yang telah diwisuda. Pada 25 Agustus 2018 lalu, sebanyak lima orang dewan asatidz telah terlebih dahulu diwisuda di IIQ Jakarta. Beliau adalah Hb. Muhammad Waliyullah dan Ust. Ibnu Muthi’, M.Ag (untuk konsentrasi pada Kajian Tafsir Al Qur’an) serta Ust. Ghufron Maksum, M.Ag, Ust. Nadzif Ali Asyari, M.Ag dan Ust. Tatang Al Haetami, M.Ag (untuk konsentrasi pada Kajian Hukum Islam). Sedangkan empat belas lainnya merupakan lulusan PTIQ Jakarta yang mengambil konsentrasi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir yakni Ust. Saepudin, M.Ag dan Ust. Mutholib, M.Ag. Sementara dua belas asatidz pada almamater yang sama memilih konsentrasi Manajemen Pendidikan yaitu Ust. Abdul Jalil, M.Pd, Ust. Asep Kurniawan, M.Pd, Ust. Budi Utomo, M.Pd, Ust. Kidam, M.Pd, Ust. M. Abdul Jalil, M.Pd, Ust. M. Mudzakkir, M.Pd, Ust. Murdiono, M.Pd, Ust. Nurisyanto, M.Pd, Ust. Samingun Ngalim, M.Pd, Usth. Laela Fitriyani, M.Pd dan Usth. Siti Kafidhoh. Nama terakhir merupakan penyandang predikat wisudawati terbaik (cumlaude) pada prosesi wisuda yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta bulan Desember tahun lalu.
Dari sekian nama dewan asatidz yang notabene telah menyandang gelar magister di atas, baik pada konsentrasi pendidikan, hukum Islam atau pun kajian Tafsir. Beberapa diantaranya telah aktif menjadi tenaga pengajar (dosen) di Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman, bahkan direkomendasikan untuk menjadi dosen tetap. Sementara asatidz lainnya menjadi tenaga pendidik di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang masih berada di lingkungan Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School.
Selaras dengan semboyan pendidikan yang disuarakan oleh Ki Hadjar Dewantara selaku Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Ing Ngarso sung Tuladha (teladan yang baik), Ing Madya Mangun Karsa (membangun semangat) dan Tut Wuri Handayani (memberikan dukungan). Ternyata di Nurul Iman antara teladan yang baik, semangat dan dukungan dapat berjalan seimbang (balance).
Dengan demikian visi untuk menciptakan tatanan pendidikan yang berkualitas tinggi (High Quality Education Supported by Social Entrepreneurship) yang digagas oleh Abah, Umi Waheeda dan keluarga dapat terus terjaga stabilitasnya. Sehingga mampu mencetak generasi muda yang mengenal Allah dan Rasul-Nya, unggul dalam segala bidang, mampu bersaing dengan dunia luar dan menjadi kebanggaan bagi bangsa dan agama. Wallahu a’lamu bi alshawaab.

IMG-20181126-WA0008 Read More …

Biografi Umi Waheeda

umii

umii

Lahir di Singapura, 14 Januari 1968 dari pasangan Ibu Safinah binti Abdurrahman dan Bapak Abdurrahman bin Adnan. Beliau memiliki darah Banyumas-Ponorogo dari garis ibu dan melayu dari ayahnya dan merupakan putri pertama dari 4 bersaudara yaitu: 1). Waheeda binti Abdul Rahman 2). Zakhina binti Abdul Rahman 3). Umar bin Abdul Rahman dan 4). Sai bin Abdul Rahman.

Beliau dibesarkan di Queens Town dan hidup di lingkungan modern serba ada. Meski demikian, anak pertama dari keempat bersaudara ini selalu memegang teguh prinsip hidupnya bahwa ia selalu “do the best and be the best”. Masa kecil beliau dihabiskan bersama keluarga dan adik-adiknya yang selalu memprioritaskan pendidikan di atas segala-galanya. Umi kecil merupakan anak yang berprestasi dan berbakat hampir disemua mata pelajaran terutama dalam bidang olahraga dan bahasa inggris. Tak terhitung piala yang ia persembahkan bagi kedua orang tuanya sebab umi pun beberapa kali sukses menjuarai olimpiade fisika, tari melayu serta cabang olahraga lari.

Setamatnya dari Anglo Chinese Junior dan Secondary School, Umi melanjutkan studi di Cresent Girl School, mengambil jurusan sastra Inggris dengan O level Cambridge. Di tempat ini prestasi umi semakin meningkat terlebih ditunjang kemampuan bahasa inggris yang baik.
Setelah tiga tahun menghabiskan masa remajanya di college, Umi memutuskan untuk menuntut ilmu agama dan nyantri di Indonesia, tepatnya di Darul Ulum International School di Surabaya. Selama berguru bersama As-Syekh Habib Saggaf, Umi telah mempelajari berbagai macam ilmu agama dan sukses melakukan transliterasi beberapa kitab kuning ke dalam bahasa inggris. Dalam perjalanan selanjutnya Umi mulai menghafal al-Qur’an dan tidak lama kemudian beliau memutuskan untuk menikah dengan Abah pada tanggal 5 Mei 1988 di Singapura.

Setelah itu Umi menetap di Indonesia mendampingi perjuangan Abah dalam berdakwah. Dari Darul Ulum, Abah mengembangkan sayap dakwahnya ke Bintaro dengan membuka sebuah Majlis Ta’lim di Masjid Raya Bintaro. Hingga kemudian Ditahun 2001 Umi memutuskan untuk berpindah kewarganegaraan menjadi WNI (Warga Negara Indonesia).

Pada tanggal 14 Mei 1998, saat Indonesia mengalami krisis moneter di Orde Baru, Abah dan Umi melihat banyaknya remaja yang putus sekolah akibat himpitan masalah ekonomi. Akhirnya mereka sepakat untuk hjrah ke Parung Kabupaten Bogor, merintis berdirinya sebuah lembaga pendidikan bebas biaya yang kemudian masyhur di kenal dunia dengan nama Pondok Pesantren Nurul Iman. Disamping mendampingi suami dalam memimpin sekolah berbasis Islam dan bebas biaya ini, Umi pun melanjutkan studinya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 2007. Setelah itu, beliau pun berhasil meraih gelar magisternya di London School Of Public Relation dan mendapat anugerah sebagai Best Student pada tahun 2010.

Namun ditengah-tengah prestasi dan bertambahnya santri, Allah berkehendak lain. Hari Jum’at, 12 November 2010, Abah berpulang ke rahmatulloh meninggalkan Umi, keluarga dan belasan ribu santri. Ucap singkat namun sarat makna yang beliau tinggalkan adalah “Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman harus tetap gratis sampai kiamat”.