Hari Selasa, 27 Mei 2025, pukul 09:00 WIB jadi momen berharga bagi mahasiswa dan mahasantri STAINI. Bertempat di aula utama kampus, seminar nasional berlanjut dengan topik yang nggak kalah menarik dari hari sebelumnya—kali ini membahas kepemimpinan dan perjuangan beasiswa sebagai jalan menuju pendidikan yang lebih baik.
Pagi itu, acara dibuka dengan nuansa religius sekaligus nasionalis: pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan lagu Indonesia Raya dan Mars STAINI yang dikumandangkan bersama para peserta. Rangkaian acara dipandu oleh MC Hafidz dan moderator Arya—dua mahasiswa aktif dari HMJ HKI yang sigap dan komunikatif dalam membawa suasana seminar tetap hidup dan fokus.
Tak seperti biasanya, opening speech disampaikan langsung oleh Wakil Ketua I, Ustadz Ali Mutakkin. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan penting yang langsung menohok hati: “Kalau mau berhasil, harus serius dalam pendidikan. Manfaatkan seminar ini, bukan sekadar hadir, tapi bawa pulang ilmunya.”
Seminar kali ini terasa berbeda karena benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa. Dua narasumber hadir menyampaikan materi yang relevan dan inspiratif. Ustad Aah menekankan bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan finansial, melainkan tanggung jawab moral untuk menempuh pendidikan dengan sungguh-sungguh. Ia mengingatkan bahwa ilmu tak hanya membuka peluang, tetapi juga menjaga diri dari keburukan dan menjadikan seseorang mulia dalam pandangan masyarakat maupun agama.
Sementara itu, Ustad Muadib membahas bagaimana pesantren menjadi wadah penting dalam membentuk pemimpin yang jujur dan berkarakter. Menurutnya, kualitas kepemimpinan yang baik lahir dari nilai-nilai luhur seperti fathonah (cerdas), shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (menyampaikan kebenaran). Ia juga menyampaikan bahwa perempuan pun layak memimpin, meski memiliki tanggung jawab biologis yang tidak ringan—namun itu bukan halangan, melainkan bentuk perjuangan tersendiri.
Meskipun sesi tanya jawab dibatasi, hanya satu penanya dari laki-laki dan satu dari perempuan, diskusi tetap terasa hidup dan menggugah. Menariknya, dalam pembahasan soal kepemimpinan, Ustadz Muadib menyampaikan bahwa perempuan juga layak jadi pemimpin asal mampu membagi waktu dan komitmen, karena perempuan punya tanggung jawab biologis yang juga berat seperti mengandung dan melahirkan. Tapi itu bukan penghalang, hanya tantangan.
Seluruh rangkaian acara digerakkan oleh HMJ HKI sebagai panitia inti, dengan dukungan dari DEMA dan HMJ jurusan lainnya. Kolaborasi ini membuat acara terasa milik bersama bukan sekadar kegiatan formal, tapi ruang untuk bertumbuh bareng.
Seminar hari Selasa ini berhasil membuktikan bahwa mahasiswa dan mahasantri STAINI bukan hanya siap bersaing di dunia akademik, tapi juga siap jadi pemimpin masa depan yang berintegritas, dengan bekal ilmu, pengalaman, dan semangat yang menyala.
By: Hazirin
Editor: Khoerul
Salam Redaksi
