MENGGUGAH SPIRIT MAHASANTRI DI ERA DIGITAL:REFLEKSI DAN INOVASI DARI SEMINAR NASIONAL STAINI

WhatsApp Image 2025-06-20 at 21.14.50

Udara siang yang hangat di kampus STAINI tak mengendurkan semangat para mahasiswa dan mahasantri yang kembali memadati auditorium untuk mengikuti sesi lanjutan Seminar Nasional, Senin, 26 Mei 2025, pukul 14.30 WIB. Masih dalam semangat yang sama, kegiatan ini menjadi ruang diskusi yang membuka cakrawala berpikir mengenai peran generasi muda Islam di era digital, sekaligus menggali potensi kecerdasan buatan (AI) sebagai mitra belajar yang cerdas.

Seperti pada sesi sebelumnya, rangkaian kegiatan dimulai dengan khidmat: pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan kemudian Mars STAINI yang menggetarkan semangat seluruh peserta. Sekali lagi DEMA dan para HMJ PBA,HKI,dan IQT, kembali mengemban tanggung jawab sebagai penyelenggara kegiatan, dengan MC Saudara Evan yang memimpin acara dengan tenang, serta moderator Saudara Hafid yang mendampingi sesi pemaparan.

Tidak ada sambutan resmi dari pimpinan lembaga, namun kehadiran Wakil Presiden Mahasiswa, Pak Apriladi, sebagai peserta seminar menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang bersama untuk belajar dan berkembang—tanpa sekat antara mahasiswa dan pemimpinnya.

WhatsApp Image 2025-06-20 at 21.14.50 (1)

Dua narasumber dihadirkan untuk memperkaya perspektif peserta. Ustdzh Enog menyampaikan pentingnya peran mahasiswa dan mahasantri dalam menjaga nilai Islam moderat di tengah tantangan zaman. Di tengah pemaparannya, beliau menyelipkan pesan mendalam: “Jangan membahas masa depan kalau kalian malas. Hidup adalah perjalanan penuh ujian. Jadilah seperti pohon berbuah—dilempari batu, tapi membalas dengan buah.”

Selanjutnya, Ustdzh Nunung mengajak peserta memahami manfaat kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan. Ia memaparkan secara ringkas bagaimana AI bisa digunakan secara efisien oleh mahasiswa, sambil tetap mengingatkan akan pentingnya etika dan kebijaksanaan dalam penggunaannya.

Berbeda dari sesi pagi, sesi siang ini tidak disertai dengan tanya jawab karena keterbatasan waktu. Namun hal tersebut tak mengurangi nilai dan kedalaman dari setiap paparan yang disampaikan. Para peserta tetap menyimak dengan penuh perhatian, membuktikan bahwa semangat belajar para mahasantri STAINI tak surut meski di bawah terik siang hari.

Melalui seminar ini, STAINI terus mengukuhkan peran mahasiswa dan mahasantrinya dalam dua hal besar: menjaga nilai-nilai keislaman yang inklusif, serta merespons kemajuan teknologi dengan cerdas dan etis. Ini bukan sekadar seminar, tapi bagian dari perjalanan membentuk generasi penerus yang tangguh, bijak, dan berdaya saing tinggi.

By: Hazirin

Editor: Khoerul

Salam Redaksi