Pada awal Juni 2025, Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman (STAINI) kembali menyelenggarakan kegiatan tahunan Masa Ta’aruf Mahasiswa (MASTAMA). Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai dari Minggu, 2 Juni hingga Kamis, 5 Juni 2025. MASTAMA bukan hanya sekadar agenda seremonial penyambutan mahasiswa baru, melainkan sebuah proses awal yang dirancang untuk memperkenalkan kehidupan kampus sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari keluarga besar STAINI.
Hari Pertama: Pembukaan dan Transisi Akademika Kegiatan dibuka pada hari Minggu pukul 14.00 WIB di Masjid Toha, yang menjadi titik awal pengenalan aturan dan agenda kegiatan. Suasana terasa hangat meski masih penuh tanda tanya di wajah para peserta. Paparan panitia menyampaikan bahwa MASTAMA ini akan diisi dengan berbagai kegiatan edukatif, spiritual, dan juga fisik yang mengasah kedisiplinan.
Senin pagi, 3 Juni, kegiatan dilanjutkan dengan Upacara Transisi Akademika yang cukup istimewa karena diikuti lintas jenjang dari SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa STAINI. Setelah itu, mahasiswa baru diajak menyelami dunia akademik melalui pengenalan program studi, diawali dengan Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) oleh Ustaz Mahmurudin dan Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) oleh Ustaz Gufron
Meski persiapan tak luput dari tantangan, kegiatan tetap berjalan lancar hingga siang hari. Pada sesi sore di Lapangan Kampus Biru, mahasiswa baru mulai merasakan atmosfer semi-militer. Menwa sebagai koordinator lapangan mengenalkan yel-yel, baris berbaris, pembagian kelompok, serta perlengkapan yang wajib dibawa keesokan harinya.
Hari Kedua: Keringat, Semangat, dan Spiritualitas Selasa pagi dimulai dengan senam bersama yang dipandu oleh Menwa, HMJ, dan DEMA. Sebelum senam, mahasiswa baru diberikan pengarahan dasar tentang baris-berbaris dan tata laporan. Suasana makin hangat saat senam dipandu oleh rekan-rekan mahasiswa baru sendiri—sebuah bentuk keberanian dan inisiatif yang diapresiasi.
Kegiatan dilanjutkan dengan kajian tafsir oleh Abah di Masjid Toha. Setelah itu, mahasiswa diperkenalkan lebih dalam pada masing-masing program studi oleh para Kaprodi: Ustaz Nurkholis (IHA), Ustaz Satibi (PBA), dan Ustaz Mahbub (MPI). Tak hanya menyimak, peserta juga antusias berdiskusi.
Siang harinya, latihan lapangan kembali digelar. Meski terik matahari menyengat, semangat peserta tetap menyala. Karena hari berikutnya bertepatan dengan puasa Tarwiyah dan Arafah, latihan fisik ini menjadi sesi terakhir di lapangan
Hari Ketiga: Tantangan dan Konsistensi Rabu pagi diawali kembali dengan senam, meskipun sempat diwarnai beberapa kendala teknis. Namun, panitia tidak menyerah. Mereka tetap berusaha agar agenda tetap berjalan sebaik mungkin. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tafsir dan pemetaan prodi melalui pengisian formulir yang telah disediakan. Sesi siang ditutup dengan briefing serta hiburan ringan dari panitia yang menambah suasana akrab dan menyenangkan.
Hari Keempat: Penutup yang Penuh Pesan Kamis pagi, kegiatan senam kembali dilaksanakan. Setelahnya, mahasiswa baru mengikuti kajian dan kemudian memasuki sesi seleksi program studi untuk HKI dan MPI yang jumlah pendaftarnya cukup banyak tahun ini. Keseriusan dan semangat peserta menjadi sorotan positif dalam sesi ini.
Puncaknya terjadi pada Kamis siang, saat closing ceremony digelar di Lapangan Kampus Biru. Acara ini dihadiri oleh Waket II dan III, yang dalam sambutannya menyampaikan pesan penuh motivasi. Meski kegiatan berlangsung di tengah ibadah puasa Arafah, mereka mengajak mahasiswa untuk tetap semangat dan menjadikan ini sebagai langkah awal yang berkah
Kegiatan diakhiri dengan momen mushafahah antara mahasiswa baru, panitia, dan para dosen, diiringi lagu “Darah Juang” dan “Buruh Tani” yang membawa suasana menjadi lebih reflektif dan menyentuh. Tidak ada tangisan berlebihan, tapi cukup untuk menyadarkan bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.
Acara ditutup secara spiritual dengan pembacaan surah Al-Fatihah yang dipimpin oleh bagian kesiswaan, Pa Aan, dan ditutup bersama dengan hamdalah. Sebuah akhir yang sederhana, hangat, dan penuh makna.
MASTAMA 2025 bukan sekadar program orientasi. Ia adalah ruang perkenalan, latihan semangat, dan pengalaman awal tentang dunia yang akan mahasiswa baru hadapi. Dari senam pagi hingga kajian tafsir, dari lapangan hingga masjid, dari teriakan yel-yel hingga hening doa penutup—semuanya menyatu dalam satu semangat: menjadi insan akademik yang kuat, siap belajar, dan siap berkontribusi.
By: Hazirin,
Editor: khoerul
Salam Redaksi

